BSI Bukukan Laba Bersih Rp2,2 Triliun pada Kuartal I-2026, Tabungan Tumbuh Pesat

BSI memperkuat dominasinya dalam tabungan haji nasional. Pangsa pasar tabungan haji BSI meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025.
0
137

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI membukukan laba bersih sebesar Rp2,2 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 17,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja tersebut didorong pertumbuhan dana murah, khususnya tabungan yang naik 20,18 persen yoy, tertinggi di industri perbankan syariah.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan pertumbuhan tabungan ditopang strategi perseroan menyasar segmen generasi muda melalui edukasi tabungan haji dan umrah sejak dini.

“Ini tentu saja menunjukkan bagaimana kami menyasar segmen generasi muda yang kami edukasi untuk mulai mendaftar haji atau mendaftar umrah sejak dini,” kata Anggoro dalam konferensi pers kinerja keuangan perusahaan, Selasa (12/5).

BSI mencatat jumlah nasabah tabungan haji mencapai 7,25 juta, dengan sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari kalangan milenial dan Gen Z.

Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI bertambah 9,26 juta. Khusus selama tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah meningkat sekitar 500 ribu sehingga total customer base mencapai 23,7 juta nasabah.

Peningkatan basis nasabah turut mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI pada kuartal I-2026 tumbuh 18 persen yoy menjadi Rp376,8 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang dana murah atau current account saving account (CASA).

Giro tercatat tumbuh 24,17 persen yoy menjadi Rp71,7 triliun, sedangkan tabungan meningkat 20,18 persen yoy menjadi Rp164,5 triliun. Secara keseluruhan, CASA tumbuh 21,36 persen yoy menjadi Rp236,2 triliun.

Baca Juga :   Buat Nasabah BSI, Kini Layanan Tarik Tunai Tanpa Kartu Bisa Dilayani di Alfamart

“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari tabungan haji,” ujar Anggoro.

Menurut dia, BSI terus fokus mengembangkan tabungan haji, payroll, dan tabungan bisnis. Sebagai bank syariah milik negara, BSI juga aktif mendukung tingginya minat masyarakat untuk berhaji.

Data perseroan menunjukkan jumlah pendaftar haji nasional meningkat dari 286,4 ribu orang pada 2023 menjadi 422,3 ribu pada 2025.

BSI juga memperkuat dominasinya dalam tabungan haji nasional. Pangsa pasar tabungan haji BSI meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025. Dari total 422,3 ribu pendaftar haji tahun lalu, sebanyak 226,4 ribu di antaranya mendaftar melalui BSI.

Pada fase keberangkatan, BSI juga mendominasi layanan jamaah haji. Pada 2026, sekitar 83,5 persen dari total kuota keberangkatan nasional berasal dari jamaah yang mendaftar melalui BSI.

Perseroan menyebut peningkatan pendaftar haji didukung kemudahan pembukaan rekening melalui platform BYOND by BSI serta berbagai program kampanye haji yang dilakukan secara nasional.

Kenaikan DPK turut mendorong total aset BSI per Maret 2026 mencapai Rp460,1 triliun. Capaian tersebut membawa BSI masuk jajaran lima besar bank terbesar di Indonesia setelah resmi berstatus bank persero pada 23 Januari 2026.

Baca Juga :   BSI Kantongi Izin Prinsip Operasional di Dubai

BSI juga menjadi satu-satunya bank syariah yang memiliki dual licence sebagai bank syariah dan bank emas. Perseroan menyebut lisensi tersebut turut meningkatkan inklusivitas layanan, tercermin dari kenaikan nasabah nonmuslim menjadi 12 persen.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan dual licence tersebut turut mendongkrak pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI).

Fee based income BSI pada triwulan I-2026 mencapai Rp2,09 triliun atau tumbuh 22,98 persen year on year,” ujar Ade.

Komposisi FBI terhadap total pendapatan BSI mencapai 22,98 persen, dengan bisnis emas menjadi kontributor terbesar sebesar 33,69 persen atau sekitar Rp705 miliar, tumbuh 125 persen yoy.

Selain bisnis emas, kontribusi FBI juga berasal dari treasury sebesar 21,67 persen dan layanan e-channel sebesar 17,46 persen.

Dari bisnis emas, pembiayaan gadai emas tumbuh 58,3 persen yoy, sedangkan layanan emas digital atau e-mas melonjak lebih dari 2.700 persen.

Dari sisi pembiayaan, BSI mencatat pertumbuhan 14,39 persen yoy menjadi Rp329 triliun, terutama ditopang segmen konsumer.

Meski tumbuh signifikan, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) gross sebesar 1,8 persen, membaik dibandingkan 1,88 persen pada periode sebelumnya. Adapun NPF net tercatat sekitar 0,38 persen.

Mayoritas pembiayaan atau sekitar 72,37 persen disalurkan ke segmen konsumer dan ritel, sedangkan sisanya 27,63 persen ke segmen wholesale.

Baca Juga :   Bank Syariah Indonesia Gandeng Shopee Perkuat Usaha Mikro Binaan

Peningkatan dana murah turut menekan biaya dana atau cost of fund menjadi 2,12 persen. Di sisi lain, Cost of Credit (CoC) BSI juga masih terjaga di level 0,73%.

Kondisi tersebut mendorong profitabilitas perseroan dengan rasio return on asset (ROA) sebesar 2,53 persen dan return on equity (ROE) sebesar 19,36 persen pada kuartal I-2026.

Sementara itu, Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan perseroan juga aktif mendukung program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pembiayaan rumah subsidi.

BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp198 miliar kepada 211 dapur MBG, mendukung penyaluran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta menyalurkan KUR kepada 17.732 nasabah.

Di sektor perumahan, BSI menyalurkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) kepada 894 nasabah pada kuartal I-2026. Total pembiayaan rumah subsidi perseroan tercatat mencapai Rp5,7 triliun.

Selain itu, BSI juga berpartisipasi dalam pembiayaan program perumahan bagi pelaku UMKM.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics