Didorong Kenaikan Harga Sektor Transportasi akibat Penyesuaian Harga BBM, Inflasi Juni 2026 Melaju 0,44 Persen

Pada Juni 2026, Pertamina melakukan dua kali penyesuaian harga BBM nonsubsidi, yakni pada 1 Juni dan 10 Juni.
0
16

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi bulanan pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga pada sektor transportasi sebagai dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).

Secara tahunan (year-on-year), inflasi tercatat sebesar 3,34 persen. Sementara itu, secara tahun kalender (year-to-date), inflasi mencapai 1,79 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kelompok pengeluaran transportasi pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil terhadap inflasi secara keseluruhan sebesar 0,28 persen.

Inflasi pada kelompok transportasi dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin. Kenaikan harga bensin memberikan andil sebesar 0,21 persen terhadap inflasi Juni. Sementara itu, kenaikan tarif angkutan udara dan harga oli mesin masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,05 persen dan 0,01 persen.

“Inflasi pada komoditi bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM non-subsidi, sementara kenaikan tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring dengan adanya periode libur sekolah pada bulan Juni ini,” kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7).

Baca Juga :   Secara Bulanan Masih Melandai, Inflasi Tahunan Februari 2026 Tembus 4,76%

Pada Juni 2026, Pertamina melakukan dua kali penyesuaian harga BBM nonsubsidi, yakni pada 1 Juni dan 10 Juni. Pada 1 Juni 2026, harga Pertamax Turbo mengalami kenaikan, sementara harga Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan. Selanjutnya, pada 10 Juni, Pertamina kembali menaikkan harga Pertamax.

Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil terhadap inflasi Juni 2026 sebesar 0,06 persen, dengan tingkat inflasi kelompok mencapai 0,20 persen.

Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bawang merah dengan andil 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, dan beras 0,02 persen.

Ateng mengatakan inflasi bawang merah didorong oleh pasokan yang masih terbatas secara nasional, meskipun terjadi peningkatan produksi di sejumlah sentra produksi. Berdasarkan pemantauan BPS, produksi bawang merah pada Juni 2026 meningkat dibandingkan Mei 2026 di sejumlah sentra, yakni Brebes di Jawa Tengah, Solok di Sumatera Barat, serta Bima dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat.

Namun, di sisi lain, produksi bawang merah juga mengalami penurunan di beberapa sentra, seperti Enrekang di Sulawesi Selatan, Demak di Jawa Tengah, Malang, serta Sampang di Jawa Timur. Dengan demikian, meskipun terdapat peningkatan produksi di sejumlah daerah, beberapa sentra lainnya justru mengalami penurunan.

Baca Juga :   Beras Impor Terus Membanjiri Indonesia, Januari-Februari 2024 Nilainya Melonjak 148,63%

Sementara itu, inflasi bawang putih disebabkan oleh kenaikan biaya angkutan barang secara global serta kecenderungan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Bawang putih terpapar risiko nilai tukar karena merupakan salah komoditas yang diimpor Indonesia.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics