Tarif Impor 32% dari Trump, Sri Mulyani; Ketergantungan Indonesia terhadap Amerika Tak Terlalu Tinggi

0
407

Meski Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor Indonesia terbesar kedua setelah Tiongkok, tetapi menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Indonesia sebetulnya memiliki banyak negara tujuan ekspor sebagai alternatif.

“Dalam arti, bahwa destinasi ekspor kita masih bisa kita diversifikasi,”ujar Sri Mulyani dalam acara bertajuk ‘Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI: Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional’, Selasa (8/4).

Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan, dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asia Tenggara, ketergantungan Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat “tidak terlalu besar”.

Ia mengatakan, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat memang terbesar kedua, setelah Tiongkok.

“Tetapi antara yang first largest yaitu China (Tiongkok), Amerika itu di US$23 miliar dan ini tidak banyak berbeda dengan destinasi lainnya,” ujarnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 nilai ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$26,31 miliar, atau 10,57% dari total ekspor non migas Indonesia yang mencapai US$248,83 miliar.

Pada 2024 neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami surplus sebesar US$ 16,84 miliar.

Baca Juga :   APBN 2023, Optimis Sekaligus Waspada di Tengah Kondisi Global yang Tak Menentu

Komoditas penyumbang surplus terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya sebesar US$3,68 miliar, pakaian dan aksesorisnya sebesar US$2,48 miliar dan alas kaki sebesar US$2,33 miliar.

Selain Amerika Serikat, mitra dagang utama Indonesia yang terbesar adalah Tiongkok. Pada 2024, nilai ekspor non migas Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu mencapai US$60,22 miliar atau menyumbang 24,2% dari total ekspor non migas Indonesia pada 2024.

Namun, perdagangan Indonesia dengan Tiongkok pada 2024 mengalami defisit sebesar US$11,4 miliar.

Selain Tiongkok dan Amerika, mitra dagang utama Indonesia juga adalah India. Pada 2024, total ekspor non migas Indonesia ke India mencapai US$20,32 miliar atau 8,17% dari total ekspor non migas Indonesia.

Indonesia mengalami surplus perdagangan dengan India sebesar US$15,38 miliar pada 2024.

Sri Mulyani mengatakan kebijakan tarif pemerintah Amerika Serikat, dimana produk Indonesia dikenakan tarif 32%, memunculkan fenomena diversi perdagangan (trade diversion).

“Trade diversion ini yang sekarang dibahas dunia. Negara mana yang bisa menjadi tujuan ekspor alternatif atau negara mana yang bisa menjadi tempat investasi alternatif untuk kemudian munculnya trade without America atau Amerika menjadi di-alienated,” ujarnya.

Baca Juga :   Anggaran Bidang Kesehatan dalam Program PEN 2021 Meningkat Menjadi Rp193,9 Triliun

Menurutnya, dalam perdagangan global, Amerika dan Tiongkok menguasai 25% perdagangan global.

“Jadi, seventy five percent sebetulnya bisa berdagang di luar dua negara besar itu,” ujarnya.

Namun, tambahnya, efek meluas atau spillover dari Amerika Serikat dan Tiongkok, memang  tidak bisa juga dianggap enteng.

“Peluang Indonesia untuk take over karena beberapa negara Vietnam, Bangladesh, Thailand, China yang rate dari resiprokalnya dari Amerika itu lebih tinggi yaitu 34%, 36%, 37% bahkan 46%. Tetapi kita juga tau banyak negara di sekitar kita atau yang mirip dengan kita yang tarifnya lebih rendah. Filipina hanya 17%, Malaysia 24%, Korea Selatan 25% dan India hanya 26%,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics