BCA: Prospek Ekonomi 2026 Bergantung pada Arah Semester II 2025

0
172

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai prospek ekonomi Indonesia pada tahun depan akan sangat bergantung pada perkembangan di semester II 2025. Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, menegaskan bahwa sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan, terutama dari sisi likuiditas perbankan, meski tantangan di belanja konsumen masih terasa.

“Mengenai prospek bisnis di dalam 12 bulan ke depan, jika semester kedua menunjukkan kemajuan yang baik, hal ini akan memberikan keyakinan bisnis yang lebih kuat untuk di tahun depan,” ujar John dalam acara Public Expose Live, Rabu (11/9).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 2025 cenderung moderat, namun tren belanja pemerintah sejak pertengahan tahun menjadi faktor penting yang diharapkan dapat mendorong akselerasi ekonomi lebih lanjut. Dari sisi konsumsi, BCA melihat adanya pelemahan, tetapi transaksi bisnis nasabah BCA menunjukkan peningkatan sejak Mei 2025.

Kebijakan moneter juga dinilai memberikan ruang lebih luas bagi pertumbuhan. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan empat kali sepanjang tahun berjalan menjadi 5 persen. John memperkirakan ada peluang pemangkasan dua kali lagi hingga akhir 2025, bergantung pada arah kebijakan The Fed, inflasi, dan stabilitas rupiah.

Baca Juga :   BCA Siapkan Anggaran Rp1 Juta per Karyawan untuk Vaksinasi Gotong Royong

Perbaikan kondisi likuiditas mulai terlihat jelas. Data menunjukkan pertumbuhan M2 mencapai 6,5 persen pada Juli 2025, naik dari 4,9 persen di Mei. M2 sendiri adalah indikator jumlah uang beredar dalam perekonomian yang mencakup uang tunai, tabungan, dan simpanan masyarakat di bank. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,6 persen pada Juni, meningkat signifikan dibanding 3,8 persen di bulan sebelumnya.

“Likuiditas di sistem perbankan ibarat darah. Kalau likuiditasnya ketat, itu seperti tubuh kekurangan darah,” kata John.

Sejalan dengan kondisi ekonomi yang moderat, BCA memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun ini berada di kisaran 6–8 persen, lebih rendah dibanding 13 persen pada tahun lalu. Meski demikian, perseroan menegaskan akan menjaga kualitas aset dengan memastikan rasio kredit bermasalah (NPL) dan Loan at Risk (LaR) tetap terkendali.

BCA juga akan tetap mengandalkan ekosistem dana murah (CASA) sebagai fondasi bisnis. Investasi digital terus digencarkan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan kecepatan layanan, meski pembukaan cabang fisik tetap berjalan dengan target 15–20 cabang baru per tahun.

Baca Juga :   Dukung Ekonomi Hijau, BCA Kucurkan Rp472 Miliar untuk PT Eco Paper Indonesia

Dalam jangka panjang, BCA secara bertahap meningkatkan penetrasi kredit pada ekosistem CASA BCA.

“Relasi dengan perusahaan-perusahaan blue chip dan UKM sangat penting. Kami juga berekspansi ke luar Jawa, baik untuk perbankan transaksi maupun penyaluran kredit,” tambah John.

Kinerja Semester I 2025

Per Juni 2025, total kredit BCA tumbuh 12,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp959 triliun, sejalan dengan komitmen perseroan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Kualitas pinjaman terjaga solid, tercermin dari rasio LaR yang membaik menjadi 5,7% dari 6,4% pada tahun sebelumnya, serta NPL yang terkendali di level 2,2%. Pencadangan juga memadai, masing-masing 167,2% untuk NPL dan 68,7% untuk LaR.

“BCA optimistis untuk terus menyalurkan kredit di berbagai segmen dan sektor ekonomi, dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian. Kredit bisnis menunjukkan pertumbuhan positif, baik di segmen korporasi maupun UMKM. Pertumbuhan kredit konsumer juga ditopang oleh pelaksanaan BCA Expoversary 2025 pada Februari lalu, dan antusiasme nasabah membuat kami kembali menggelar BCA Expo 2025 di tujuh kota besar pada Agustus–September 2025. Selain itu, kami juga mengadakan UMKM Fest 2025 yang diikuti lebih dari 1.700 pelaku UMKM secara hybrid,” jelas John.

Baca Juga :   BCA Bagikan Dividen Sebesar Rp205 per Saham, Naik 41,4% YoY

Dari sisi pendanaan, total DPK naik 5,7% YoY menjadi Rp1.190 triliun per Juni 2025. Komponen giro dan tabungan (CASA) tumbuh 7,3% YoY, seiring dengan peningkatan frekuensi transaksi. Sepanjang semester I 2025, frekuensi transaksi BCA tumbuh 17% YoY, atau meningkat 3,5 kali lipat dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kanal digital, di mana transaksi mobile dan internet banking naik 19% YoY.

Selaras dengan kinerja kredit dan pendanaan yang solid, BCA bersama entitas anak berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp29 triliun pada semester I 2025, tumbuh 8% YoY.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics