Penyaluran SAL Rp 276 T di Semester I/2026 Dinilai Akan Berdampak terhadap Ekonomi Nasional

0
64
Reporter: Rommy Yudhistira

Permata Institute for Economics Research (PIER) memprediksi dampak penyaluran saldo anggaran lebih (SAL) senilai Rp 276 triliun akan berdampak terhadap ekonomi nasional pada Semester I/2026.

Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan, memasuki Semester II/2026, penyaluran SAL itu dinilai akan lebih terlihat dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kendati demikian, proyeksi tersebut juga mempertimbangkan situasi global.

Faisal menilai, ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta kondisi geopolitik, masih menyelimuti ketidakpastian. “Apalagi memang masih menunggu kepastian dari global juga. Minggu depan ini referensi The Fed juga penting. Apakah masih memotong suku bunga atau bagaimana,” kata Faisal saat ditemui di Senayan Park, Jakarta, Kamis (4/12).

Selain sisi luar, kata Faisal, kebijakan yang akan dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pun dinilai mampu mempengaruhi kondisi pasar, dan ekonomi nasional pada tahun depan. BI telah mengeluarkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

Kata Faisal, KLM merupakan pemberian insentif melalui pengurangan giro bank di BI, yang bertujuan untuk mendorong penyaluran kredit pada sektor-sektor prioritas ekonomi.

Baca Juga :   Menko Perekonomian: Jaga Sektor Pemenang dan Perhatian Penuh untuk Sektor yang Terimbas Covid-19

“Jadi memang kita lihat juga bagaimana nanti. Kebijakan-kebijakan yang sudah ada, yang secara konsep sudah cukup bagus implementasinya bisa bagus atau tidak. Sebenarnya semakin cepat bisa dilakukan, maka dampaknya juga lebih cepat lagi,” tambahnya.

Secara keseluruhan, kata Faisal, pihaknya optimistis Indonesia bisa memperbaiki kondisi ekonomi yang sempat melemah pada 6 bulan pertama 2025. Beberapa indikator perbaikan juga sudah mulai terlihat dalam 2-3 bulan terakhir lewat kebijakan yang dikeluarkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar, dan pelaku usaha di Indonesia.

“Apalagi misalnya diberikan (tarif) 0% untuk ekspor-ekspor yang tidak bisa diproduksi di Amerika. Jika itu terjadi, tentunya itu pasti punya dampak ke ekonomi kita. Jadi kita lihat ke depan masih ada peluangnya, meskipun jalannya tidak akan mulus,” ujar Faisal.

Leave a reply

Iconomics