Logis 08, Relawan Presiden Prabowo Usulkan Dapur MBG Dibangun dan Dikelola di Lingkungan Sekolah
Logis 08, relawan pendukung Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar sebagian besar dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibangun dan dikelola langsung di lingkungan sekolah penerima manfaat. Usulan ini muncul ketika lembaga yang mengelola program tersebut dilanda kasus korupsi.
Menurut Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo, konsep dapur berbasis sekolah dinilai lebih efektif, efisien, serta mampu meningkatkan kualitas layanan bagi para siswa. Karena itu, Badan Gizi Nasional (BGN) dan pemerintah disebut layak mempertimbangkan usulan tersebut.
Ditambah lagi, ujar Anshar, adanya upaya memperkuat tata kelola dan mengawasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.
“Logis 08 mengusulkan agar sebagian besar dapur MBG ditempatkan di sekolah-sekolah penerima manfaat. Selain lebih dekat dengan siswa, sistem ini akan meningkatkan efektivitas distribusi, pengawasan, dan kualitas makanan yang diberikan,” kata Anshar kepada wartawan pada Rabu (18/6) malam.
Menurut mantan Wakil Ketua Umum DPP KNPI itu, terdapat sejumlah keunggulan ketika menerapkan dapur berbasis sekolah. Pertama, makanan dapat disajikan dalam kondisi lebih segar karena tidak memerlukan waktu distribusi yang panjang, sehingga kualitas gizi dan kebersihan lebih terjaga.
Kedua, biaya distribusi dan transportasi dapat ditekan secara signifikan. Selama ini, sebagian anggaran juga digunakan untuk mengirim makanan dari dapur terpusat ke sejumlah sekolah yang berjauhan.
Ketiga, pengawasan dinilai lebih optimal karena melibatkan pihak sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, serta pemerintah daerah.
“Semakin dekat dapur dengan penerima manfaat, semakin mudah pengawasannya. Potensi penyimpangan, penurunan kualitas bahan baku, maupun keterlambatan distribusi dapat diminimalkan,” tegas alumni aktivis HMI tersebut.
Selain itu, kata Anshar, pihaknya menilai keberadaan dapur di sekolah berpotensi mendorong perekonomian lokal melalui penciptaan lapangan kerja bagi tenaga masak, petugas kebersihan, serta pelibatan pemasok bahan pangan dari masyarakat sekitar.
Model ini, kata Anshar, dapat mengurangi risiko makanan rusak atau basi akibat perjalanan distribusi yang terlalu jauh, sehingga keamanan pangan bagi siswa lebih terjamin.
Konsep dapur sekolah, kata Anshar, sejalan dengan semangat gotong royong dan pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.
Meski demikian, kata Anshar, pihaknya mendorong pemerintah mengkaji teknisnya secara menyeluruh, terutama bagi sekolah yang memiliki keterbatasan lahan dan sarana pendukung.
Untuk wilayah tertentu, kata dia, skema dapur bersama atau dapur terpusat tetap dapat diterapkan sesuai kondisi di lapangan.
“Yang terpenting, program MBG benar-benar memberikan manfaat maksimal kepada siswa, tepat sasaran, transparan, dan efisien dalam penggunaan anggaran negara,” kata Anshar.