Mineral Kritis Jadi Penentu Daya Saing, Tata Kelola dan ESG Kunci Akses Pembiayaan
Panel diskusi bertajuk Critical Minerals: Policy, Technology and Future/Dok. Kedubes India
Daya saing sektor mineral kritis tidak lagi ditentukan oleh besarnya cadangan semata, tetapi oleh kualitas tata kelola, kredibilitas proyek, dan kemampuannya menarik pembiayaan global.
Dalam forum yang selenggarakan Kedutaan Besar India di Jakarta bersama Indonesian Chamber of Commerce in India (IndCham), Practice Leader and Corporate Consultant di SRK Consulting, Subrato Kumar Ghosh memaparkan lanskap global mineral kritis dari sudut pandang geologi, eksplorasi, serta kelayakan proyek tambang.
Menurut Subrato, lonjakan permintaan terhadap nikel, kobalt, dan mineral strategis lainnya didorong oleh percepatan kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan cadangan saja tidak cukup. Proyek tambang harus memenuhi standar pelaporan internasional, memiliki tata kelola yang transparan, serta mampu menarik pembiayaan global agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Perwakilan dari NMDC Ltd, Amitava Mukherjee menekankan bahwa mineral kritis kini menjadi isu strategis nasional bagi banyak negara. Ia menyebut bahwa kerja sama antarnegara produsen dan konsumen menjadi kunci dalam menciptakan rantai pasok yang stabil.
“Keamanan pasokan mineral adalah bagian dari keamanan ekonomi,” kata Amitava.
Dari perspektif pembiayaan dan manajemen kinerja, Perwakilan Danantara, Manoj Kumar Behera menekankan pentingnya efisiensi operasional dan tata kelola yang kuat agar proyek-proyek mineral kritis tetap kompetitif. Ia menyebut bahwa investor global kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan transparansi.
Charles Kho dari HSBC menambahkan bahwa lembaga keuangan global siap mendukung proyek mineral kritis yang memenuhi standar tata kelola dan keberlanjutan internasional.
“Proyek yang memiliki kepastian regulasi dan standar ESG yang jelas akan lebih mudah mendapatkan pembiayaan,” kata Charles.