Pendapatan Turun 9,4%, Laba Gudang Garam Melonjak 59% pada 2025
Ilustrasi/Dok.GGRM
Di tengah penurunan pendapatan pada 2025, PT Gudang Garam Tbk justru berhasil membukukan lonjakan laba bersih yang signifikan, ditopang efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan non-operasional.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan Gudang Garam turun 9,4% menjadi Rp89,37 triliun pada 2025, dari Rp98,66 triliun pada 2024.
Mengutip laporan keuangan 2025, pendapatan perseroan masih sangat didominasi oleh segmen rokok dengan total mencapai Rp87,36 triliun atau sekitar 97,75% dari total pendapatan.
Secara rinci, kontribusi segmen rokok terdiri dari:
- sigaret kretek mesin (SKM) sebesar Rp79,41 triliun (sekitar 90%),
- sigaret kretek tangan (SKT) sebesar Rp7,94 triliun (sekitar 9%),
- rokok klobot sebesar Rp7,7 miliar (sekitar 0,01%).
Sementara itu, kontribusi segmen non-rokok relatif kecil, yakni:
- kertas karton sebesar Rp798,01 miliar atau sekitar 0,89%,
- konstruksi sebesar Rp820,73 miliar atau sekitar 0,92%,
- serta lainnya sebesar Rp395,34 miliar atau sekitar 0,44%.
Meski pendapatan menurun, laba tahun berjalan justru melonjak 59,0% menjadi Rp1,56 triliun, dari Rp980,80 miliar pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 58,7% menjadi Rp1,56 triliun dari Rp980,80 miliar pada 2024.
Kenaikan laba turut ditopang oleh lonjakan pendapatan lainnya yang naik 150,9% menjadi Rp467,85 miliar dari Rp186,45 miliar.
Perseroan tidak merinci secara eksplisit komposisi pendapatan lainnya. Namun, dari catatan terkait, lonjakan ini diduga berasal dari peningkatan keuntungan penjualan aset tetap yang mencapai Rp257,74 miliar pada 2025, melonjak tajam dibandingkan Rp27,25 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, perseroan berhasil menekan beban usaha sebesar 13,8% menjadi Rp6,63 triliun dari Rp7,69 triliun.
Selain itu, beban bunga turun 44,7% menjadi Rp278,21 miliar dari Rp502,91 miliar, sehingga mengurangi tekanan terhadap laba.
Kombinasi efisiensi biaya, penurunan beban keuangan, serta lonjakan pendapatan non-operasional mendorong laba usaha naik 48,8% menjadi Rp2,83 triliun, dari Rp1,90 triliun pada tahun sebelumnya.