POPSI Sebut Harga Tender CPO Turun Selepas Pengumuman Ekspor 1 Pintu Lewat DSI

0
63
Reporter: Rommy Yudhistira

Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menyebutkan harga tender minyak sawit mentah (CPO) menurun pasca-pengumuman kebijakan tata kelola ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Penurunan CPO juga menyebabkan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani sawit.

Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto mengatakan, harga tender minyak sawit mentah turun dari sekitar Rp 15.300 per kilogram (kg), menjadi Rp 12.150 per kg hanya dalam beberapa hari. Dampaknya juga langsung dirasakan, lantaran tidak ada pihak yang mau mengambil TBS dari petani di berbagai daerah.

Akar permasalahan penurunan harga, kata Mansuetus, karena ketidakjelasan dan mekanisme implementasi kebijakan. Para pelaku usaha cenderung tidak mengetahui mekanisme perdagangan, pembayaran, pembentukan harga, hingga pembagian risiko bisnis yang dijalankan.

Dalam situasi itu, kata Mansuetus, banyak perusahaan berpotensi memilih bahan baku hanya dari internal untuk mengurangi risiko. Sebab, hal tersebut lumrah dan wajar dilakukan perusahaan.

“Kondisi ini akan memukul pabrik kelapa sawit independen yang tidak memiliki refinery maupun jaringan ekspor sendiri, dan pada akhirnya kembali menekan harga TBS petani bahkan petani tidak bisa panen kalau pabrik-pabrik itu tutup untuk mencegah kerugian mereka,” kata Mansuetus dalam keterangan resminya pada Jumat (22/5).

Baca Juga :   Harga Referensi CPO Naik untuk Periode 1-15 Mei 2023

Selain itu, kata Mansuetus, perdagangan sawit internasional sangat kompleks, dan tidak bisa disederhanakan dinilai sebagai persoalan administrasi, atau dugaan under invoicing.

Dalam perdagangan global, lanjut Mansuetus, terdapat mekanisme free on board (FOB) dan cost, insurance, and freight (CIF). Ada pula mekanisme klaim kualitas, risiko pengiriman, perubahan kadar air, asam lemak bebas (FFA), hingga komplain pembeli internasional yang mempengaruhi harga akhir transaksi.

“Selain itu, ekosistem ekspor sawit nasional selama ini dibangun melalui jaringan logistik, storage tank, bulking station, kapal tanker, trading hub, pembiayaan perdagangan, serta reputasi global yang dibangun puluhan tahun oleh pelaku usaha nasional,” ujar Mansuetus.

Untuk itu, ujar Mansuetus, POPSI meminta pemerintah untuk fokus memperkuat transparansi dan tata kelola, tanpa merusak mekanisme pasar yang berlaku. Sedangkan mekanisme perdagangan dan pembentukan harga, tetap dilakukan melalui pasar yang kompetitif, dan terbuka.

“POPSI melihat akan ada rente-rente baru yang akan diuntungkan. Siapa yang dekat dengan kekuasaan akan memperoleh akses pasar, mendapatkan kuota penjualan. Negara tujuan dengan harga premium, dan sebaliknya yang tidak patuh pada rente politik maka aksesnya akan tersingkir. Ujungnya, lagi-lagi petani dan buruh kebun sawit,” kata Mansuetus.

Baca Juga :   AP II: Dampak Pandemi Covid-19, Pergerakan Penumpang Pesawat Turun di Kuartal I

Berikut data penurunan harga tender CPO di berbagai daerah:

– Sumatra Selatan turun dari Rp 3.577 menjadi Rp 2.722 per kg
– Kalimantan Tengah turun dari Rp 3.483 menjadi Rp 3.163 per kg
– Riau turun dari Rp 3.397 menjadi Rp 3.070 per kg
– Jambi turun dari Rp 3.266 menjadi Rp 2.944 per kg
– Sumatra Utara turun dari Rp 3.299 menjadi Rp 2.899 per kg

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics