Astra Agro Lestari Perkirakan Harga CPO Tahun Ini Lebih Baik
Santosa, Presiden Direktur Astra Agro Lestari Tbk/Iconomics
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) memperkirakan harga Crude Palm Oil (CPO) pada tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, kenaikan harga tersebut juga tidak signifikan dinikmati perusahaan sawit karena adanya pungutan dan pajak ekspor CPO yang diberlakukan secara progresif sejak akhir tahun lalu.
Tahun 2020 lalu, meskipun produksi CPO Astra Agro Lestari turun 13,6% menjadi 1,43 juta ton, tetapi kinerja keuangan Perusahaan masih tumbuh positif karena kenaikan harga rata-rata CPO Astra Agro Lestari yang meningkat 27,8% menjadi Rp8.545 per kg. Pendapatan Perusahaan tahun 2020 tercatat sebesar Rp18,8 triliun, naik 7,8%. Sementara laba operasional sebesar Rp1,84 triliun naik 91,8% dan laba bersih sebesar Rp833,1 miliar naik 294,6%.
Santosa, Presiden Direktur Astra Agro Lestari Tbk mengatakan harga CPO pada semester pertama tahun lalu masih rendah. Kenaikan baru terjadi pada akhir kuartal ketiga hingga kuartal keempat. Kenaikan tersebut berlangsung hingga saat ini.
“Mudah-mudahan bisa berlangsung terus sampai di akhir tahun (2021). Kalau toh terjadi penurunan mudah-mudahan tidak terlalu signifikan karena kenaikan produksi akan kita arahkan di semester dua,” ujar Santosa saat paparan publik secara virtual, Rabu (14/4).
Namun, Santosa mengatakan meskipun harga CPO naik signifikan, tetapi tidak serta merta akan terefleksikan secara sama pada kinerja keuangan Perusahaan. Karena pada akhir 2020 lalu, ada perubahan formulasi pungutan dan pajak ekspor yang berlaku secara progresif sesuai kenaikan harga CPO di pasar.
“Sehingga dampak signifikansinya terhadap kinjera perusahaan mungkin tidak akan seperti yang terefleksi di harga. Karena sebagian besar dari kenaikan harga itu lebih banyak akan di-absorb untuk pungutan maupun untuk pajak ekspor yang akan dinikmati oleh pemerintah kita,” ujarnya.
Sebagai ilustasi, jelasnya, pada hari ini harga CPO berada di kisaran US$1.000 per ton. Santosa mengatakan dari harga tersebut sekitar US$375 diantaranya menjadi bagian pemerintah yang terdiri dari pungutan yang disetorkan ke BPDP-KS untuk mendukung program B30 sebesar US$255 dan sebanyak US$116 untuk pajak ekspor. Sehingga Perusahaan hanya mendapatkan sekitar US$700.
“Harapan kami hanya satu, nantinya pemerintah benar-benar bisa mendukung industri ini karena di kala sulit begini industri ini sangat mendukung perekonomian kita semua,” ujarnya.
Untuk target produksi Astra Agro Lestari, Santosa mengatakan tahun ini diperkirakan akan stagnan. Tahun 2020 lalu, produksi TBS Astra Agro Lestari mencapai 4,63 juta ton turun 7,7% dibandingkan tahun 2019. Pembelian TBS dari eksternal juga turun sebesar 18,1% menjadi 2,61 juta ton karena adanya pembatasan aktivitas sosial. Sedangkan produksi CPO Astra Agro Lestari pada tahun 2020 mencapai 1,43 juta ton, turun 13,6%.