Awal Tahun 2024, Impor Beras Melonjak Tajam, Tetapi Harga Beras Masih Tinggi

0
149

Indonesia kembali mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pada awal tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan impor bahan pangan utama tersebut secara tahunan (year on year).

Amalia A.Widyasanti, Pelaksana Tugas Kepala BPS mengungkapkan pada Januari 2024, negara yang dipimpin Joko Widodo ini mengimpor beras senilai US$279,2 juta, naik 135,12% bila dibandingkan nilai impor beras pada Januari 2023 yang sebesar US$118,7 juta.

“Impor beras tersebut utamanya berasal dari Thailand senilai US$153 juta, kemudian dari Pakistan senilai US$79,3 juta, dan dari Myanmar senilai US$23,98 juta,” ujar Amalia dalam konferensi pers kinerja ekspor dan impor Indonesia selama Janurai 2024, Kamis, 15 Februari.

Secara keseluruhan pada Januari 2024, nilai impor berbagai komoditas ke Indonesia mencapai US$18,51 miliar, naik 0,36%  dibandingkan Januari 2023.

Sementara itu, nilai ekspor Indonesia Januari 2024 mencapai US$20,52 miliar, turun 8,06% dibandingkan Januari 2023.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia Januari 2024 kembali mengalami surplus yaitu sebesar US$2,02 miliar.

Baca Juga :   BPS: Setelah Deflasi 3 Bulan Berturut-Turut, Oktober 2020 Terjadi Inflasi 0,07%

Impor beras tahun 2023 pecah rekor dalam 5 tahun

Berdasarkan publikasi BPS pada Januari 2024 lalu, sepanjang 2023, Indonesia mengimpor beras sebanyak 3,06 juta ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Volume impor beras pada tahun 2023 ini naik 613,6% atau 7 kali lipat dibandingkan impor beras tahun 2022 yang sebesar 429,21 ribu ton.

“Selama lima tahun terakhir, impor beras di tahun 2023 ini merupakan yang terbesar yakni sebesar 3,06 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 613% dibandingkan tahun 2022,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin,15 Januari 2024.

Dua negara dengan porsi terbesar impor beras ke Indonesia selama tahun 2023 adalah Thailand yaitu sebesar 1,4 juta ton atau mencakup 45,12% dari total impor beras. Kemudian, diikuti oleh Vietnam sebesar 1,1 juta ton atau 37,47% dari total impor beras sepanjang tahun 2023.

Pudji tak mengungkapan nilai impor impor beras sepanjang tahun 2023 ini. Tetapi, total nilai impor serealia dimana di dalamnya termasuk beras dan gandum mencapai US$5,95 miliar sepanjang tahun 2023 atau sekitar Rp92,2 triliun (kurs:15.500).

Baca Juga :   Inflasi Tahunan Mendekati Level 5%, BPS: Inflasi Inti Masih Terkendali

Impor serealia, papar Pudji merupakan komoditas dengan peningkatan nilai impor terbesar sepanjang tahun 2023 yaitu naik 33,61% dibanding tahun 2022. Total nilai impor serealia ini merupakan 2,26 persen terhadap total nilai impor secara keseluruhan pada tahun 2023.

Impor melonjak tetapi di dalam negeri harga masih tinggi

Meski beras impor terus membanjiri pasar domestik, tetapi harga beras di dalam negeri tetap tinggi. Mengutip Panel Harga Pangan Nasional yang dipublikasikan Badan Pangan Nasional, rata-rata harga beras medium di tingkat eceran pada 31 Desember 2022 adalah Rp11.420 per kg.

Setahun kemudian, atau pada 31 Desember 2023, rata-rata harga beras medium di tingkat eceran menjadi Rp13.190 per kg atau naik  15,5%, year on year.

Sepanjang tahun 2024 ini, rata-rata harga beras medium di tingkat eceran sudah naik 5,76% ke level Rp13.950 per kg per 15 Februari 2024.

Tak hanya harganya yang naik, pemerintah juga membatasi pembelian beras, meskipun di sisi lain pemerintah mengklaim pasokan beras dalam negeri aman.

Baca Juga :   BPS: Kunjungan Wisman Naik 166,42% pada Mei 2023

“Saya pastikan beras hari ini cukup, sekali lagi beras hari ini cukup. Pembatasan di ritel demi itu pemerataan,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi.

Leave a reply

Iconomics