Masa Depan Bisnis Migas, Masihkah Prospektif di Tengah Upaya Nol Emisi Karbon?
Pakar energi sekaligus mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Arcandra Tahar
Dua arus utama transisi
Arcandra mengatakan ada dua arus utama pandangan dalam transisi energi di dunia saat ini yang belum menemukan titik temu, yaitu mainstream Eropa dan Amerika Serikat.
European Bank menyatakan tidak lagi memberikan dukungan pendanaan untuk proyek-proyek energi fosil. Karena itu, strategi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan migas di Eropa, seperti Shell, BP, Total, Eni, Repsol, dan Equinor, adalah mentrasformasikan bisnisnya dengan meninggalkan bisnis energi fosil ke energi terbarukan.
Sementara arus utama yang berkembang di Amerika tidak seekstrim yang dilakukan oleh Eropa. Perusahaan-perusahaan migas besar asal Amerika seperti Chevron, Exxon, dan ConocoPhillips menyatakan tetap akan berbisnis di migas dan akan mengurangi dampak negatifnya melalui teknologi. “Ini yang dinamakan dekarbonisasi,” ujar Arcandra.
Strategi beralih ke energi terbarukan yang dilakukan oleh Eropa, ditengari telah menyebabkan terjadinya krisis energi di benua biru tersebut, bahkan sebelum terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. “Akhir 2021, sudah ada tanda-tanda krisis energi di Eropa. Apakah akibat strategi ini?” ujar Arcandra.
Menurutnya, salah satu peyebab harga minyak dunia naik adalah karena energi bersih yang diharapkan dihasilkan oleh angin dan matahari (Solar Photovoltaic) di Eropa produksnya tidak sesuai harpan, sehingga kemudian beralih ke gas. “Sewaktu gas dibutuhkan, terjadi perang antara Rusia dan Ukraina,” ujarnya.
Halaman Berikutnya