Pemerintah Masih Kaji Perpanjangan Kontrak Karya Vale Indonesia

0
297

Pemerintah belum memutuskan untuk memerpanjang kontrak karya PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Kontrak perusahaan tambang nikel yang berbasis di Sulawesi ini akan berakhir pada tahun 2025.

Presiden Joko Widodo mengatakan masih mengkaji soal kelanjutan kontrak karya perusahaan yang sudah memperoleh konsesi pertambangan nikel di Indonesia sejak tahun 1968 ini.

“Vale ini masih dalam proses kalkulasi, masih dalam proses perhitungan-perhitungan dari kementerian-kementerian yang terkait dan segera nanti diumumkan. Kita ingin, kita ingin manfaat yang sebesar-besarnya untuk rakyat dan negara. Itu saja,” ujar Presiden kepada wartawan dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (29/3).

Presiden menegaskan pemerintah belum mengambil keputusan terkait diperpanjang atau tidaknya kontrak karya Vale Indonesia.

“Belum diputuskan, masih dalam kalkulasi, masih dalam kajian-kajian perhitungan,” ujarnya.

Kontrak karya PT Vale Indonesia Tbk atau yang sebelumnya bernama PT International Nickel Indonesia Tbk dimulai sejak 1968. PT International Nickel Indonesia Tbk merupakan anak perusahaan dari Inco Canada Limited. Pada tahun 1990, PT International Nickel Indonesia Tbk resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode INCO, dimana saat itu 20% sahamnya dimiliki publik.

Baca Juga :   Makin Gawat, Kantor Pusat Wanaartha Life Terancam Disita untuk Bayar Kewajiban ke Vale Indonesia

Kemudian tahun 2006, Inco Canada Limited diakuisisi oleh Vale. Seiring dengan akusisi tersebut, nama perusahaan ini pun berubah menjadi PT Vale Indonesia Tbk pada tahun 2011.

“Tahun 1996, kontrak karya kami diperbaharui dan diperpanjang hingga tahun 2025. Kemudian pada tahun 2014, kita juga melakukan renegosiasi dan amandemen terhadap kontrak karya kami, dimana salah satu item yang disepakati saat itu adalah perusahaan diwajibkan untuk melakukan divestasi kembali sebesar 20% saham kami dalam kurun waktu lima tahun. Jadi, ini merupakan divestasi kedua,” ujar Glorinophika, Head of Investor Relation Vale Indonesia dalam acara Emiten Talk yang diselenggarakan Stockbit, Rabu (29/3).

Divestasi kedua ini terlaksana pada tahun 2019 dengan ditandataganinya Head of Agreement dengan PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum yang merupakan holding BUMN pertambangan. Proses divestasi ini selesai pada Oktober 2020 dimana Inalum resmi membeli saham Vale Indonesia sebanyak 20%.

Pasca divestasi kedua ini, kepemilikan saham Vale Indonesia pun terdiri dari Vale Canada Limited sebesar 43,79%, Inalum 20%, Sumitomo Metal Mining sebesar 15%, publik 20% dan Vale Japan Limited sebesar 0,54%.

Baca Juga :   MIND ID Beli Saham Vale Indonesia, Inilah Komentar Menteri BUMN

Berdasarkan kontrak karya, konsesi PT Vale Indonesia tersebar di tiga provinsi di Sulawesi yaitu Sulawesi Sealatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara dengan luas 118.000 hektar.

“Saat ini kegiatan utama kami, itu yang beroperasi masih di Sorowako, Sulawesi Selatan, dimana kami punya pabrik pengolahan nikel matte,” ujar Glorinophika.

Glorinophika mengatakan total cadangan nikel yang berada di area konsesi Vale Indonesia sebanyak 111 juta metrik ton dengan kadar nikel rata-rata 1,7%.

“Untuk di wilayah konsesi yang Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, saat ini kami ada dua proyek baru yaitu nanti untuk pembangunan RKEF [Rotary Kiln Electric Furnace] di Sulawesi Tengah dan juga untuk pembanguna pabrik HPAL [High Pressure Acid Leaching] di Sulawesi Tenggara,” jelas Glorinophik.

Leave a reply

Iconomics