Perang Israel dan Iran, Bank Indonesia Beberkan Dampaknya Bagi Perekonomian Global dan Domestik
Deputi Gubernur BI, Aida S.Budiman
Bank Indonesia menyatakan ketegangan geopolitik yang terjadi di sejumlah kawasan di dunia, termasuk terbaru perang antara Israel dan Iran akan berdampak pada ekonomi global dan juga pasar keuangan global.
Ketegangan geopolitik ini terjadi di tengah kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang mengenakan tarif impor yang tinggi untuk berbagai negara, termasuk Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tarif Amerika Serikat yang ditetapkan pada April lalu, sudah dirasakan dampaknya, seperti melemahnya nilai tukar Rupiah.
“Di sinilah Bank Indonesia memberikan komitmen yang tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Itu yang terus kami prioritaskan sejak dari awal tahun, maupun ke depan,” ujar Perry dalam konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (18/6).
Perry mengatakan saat ini, nilai tukar Rupiah menguat dibandingkan April lalu, pasca Amerika Serikat mengumumkan tarif resiprokal. Saat itu, di pasar offshore atau luar negeri, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat sempat berada di sekitar 17.300.
Bank Indonesia, kata dia, memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar, termasuk pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF) seperti di Hongkong, Eropa, dan Amerika.
Intervensi yang dilakukan ini, jelasnya, membuat nilai tukar Rupiah saat ini berada di kisaran 16.200-16.300.
Deputi Gubernur BI, Aida S.Budiman mengatakan dalam Rapat Dewan Gubernur BI 17-18 Juni, selain mencermati perkembangan negosiasi tarif resiprokal pemerintah Amerika Serikat, Bank Indonesia juga mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah.
Untuk tarif resiprokal Amerika Serikat, Aida mengatakan, terbaru adalah terkait dengan tarif baja dan aluminium. Di sisi lain, Inggris dan Qatar sudah menyelesaikan negosiasinya dengan Amerika Serikat.
“Sementara untuk geopolitik, ini memang masih terus berkembang dan kita terus berhati-hati dengan memperhatikan bagaimana dampaknya kepada supply disruption dan ini tentunya akan memengaruhi harga-harga komoditas,” ujar Aida.
Aida memaparkan, ada tiga jalur dampak situasi geopolitik ini ke Indonesia, yaitu melalui pasar keuangan, perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
Jalur pasar keuangan, jelasnya, memengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah. “Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas dari nilai tukar Rupiah tersebut,” ujarnya.
Untuk jalur perdagangan, Aida mengatakan, BI mencermati perubahan terhadap permintaan, terutama dari negara maju dan Tiongkok.
Sementara dampak terhadap pertumbuhan ekonomi global, kata Aida, sejauh ini BI masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tetap di level 3%.
“Tidak ada yang berubah untuk pertumbuhan dari negara-negara lain, kecuali India akibat dari peningkatan investasi dalam negerinya. Dengan itu semua, dari sisi baseline pertumbuhan ekonomi Indonesia kami tetap melihat angkanya 4,6% sampai 5,4%,” ujarnya.