Permintaan Emas Murni Dalam Negeri Tinggi, Antam Impor Sekitar 30 Ton per Tahun

0
80

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengungkapkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan emas murni di dalam negeri. Akibat tingginya permintaan masyarakat, perusahaan pelat merah tersebut terpaksa melakukan impor emas, terutama dari Singapura dan Australia, dengan volume mencapai sekitar 30 ton per tahun.

Direktur Utama Antam, Achmad Ardianto, menjelaskan hal ini dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (29/9). Menjawab pertanyaan Wakil Ketua Komisi VI, Andre Rosiade mengenai ekspor emas yang dilakukan Antam ke Singapura untuk kemudian diimpor kembali, Achmad mengatakan Antam tidak melakukan ekspor, melainkan hanya impor untuk memenuhi permintaan yang tinggi di dalam negeri.

Ia menjelaskan saat ini Antam memiliki fasilitas pengolahan dore bullion menjadi emas murni di Pulo Gadung, Jakarta, berkapasitas 40 ton per tahun. Bahan baku untuk fasilitas pemurnian di Pulo Gadung itu hanya 1 ton saja yang bersumber dari tambang emas milik Antam di Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Selebihnya, jelas Achmad, diperoleh Antam dari berbagai sumber. Pertama, buyback.

“Jadi emas-emas masyarakat yang dulu dibeli di Antam, kemudian (mereka sedang) butuh cash dijual kembali ke Antam, itu menjadi sumber bagi kami untuk dicetak menjadi versi yang baru,” ujarnya.

Baca Juga :   Direktur Antam: Pabrik Feronikel di Halmahera Timur Mulai Beroperasi Semester II-2023

Hanya saja, emas dari hasil buyback ini, tambahnya, jumlahnya hanya 2,5 ton setahun.

“Jadi kita masih shortage,” ujarnya.

Sumber lainnya, jelas Achmad, adalah dari perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia yang memurnikan hasil produksinya di fasilitas milik Antam. Ia mengatakan kepada perusahaan-perusahaan itu, Antam menawarkan untuk langsung menjual hasil pemurniannya ke Antam. Sebagian memang ada yang bersedia menjual ke Antam, namun sebagian lainnya juga tidak.

“Soalnya adalah tidak ada aturan yang mewajibkan mereka untuk menjual ke Antam,” ujarnya.

Karena tidak ada kewajiban menjual ke Antam, perusahaan-perusahaan tambang ini memiliki fleksibilitas untuk menjual di dalam negeri atau ekspor.

“Karena sifatnya seperti itu tentu saja terjadi tawar-menawar. Tawar-menawar di sini ada elemen pajak juga, yang membuat perusahaan tambang lebih fleksibel untuk mengekspor dibanding menjual kepada Antam,” ujarnya.

Selain pajak, bila menjual ke Antam, produsen emas ini juga meminta agar produk perak yang dihasilkan juga dibeli sekalian oleh Antam. “Karena sulit bagi mereka untuk menjual peraknya saja kalau emasnya sudah diambil Antam. Dengan bundling ini ada pajak juga yang muncul di situ, PPN 13 persen. Jadi itu berat bagi mereka dan bagi Antam juga,” ujarnya.

Baca Juga :   2 Komisaris Antam Kelar Masa Jabatannya, Komisaris Sisa 3

Karena tidak ada kepastian jaminan pasokan dari dalam negeri, jelas Achmad, Antam pun melakukan impor. Antam membeli dari bullion bank, refinery, maupun trader yang terafiliasi dengan London Bullion Market Association.

“Nah, inilah yang kemudian terasosiasikan bahwa seakan-akan kita mengekspor emas, padahal Antam tidak pernah mengekspor emas kita. Jadi, yang mengekspor emas itu adalah perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Nah, kita membeli dari bullion bank, refinery, maupun trader yang ada di Singapura maupun Australia,” ujarnya.

Harga pembelian di pasar luar negeri ini, kata Achmad, merujuk pada harga pasar. “Jadi semuanya itu sebenarnya transparan dan bisa dilacak,” ujarnya.

Achmad menegaskan, Antam terpaksa melakukan impor emas. “Karena kebutuhan masyarakat besar sementara sumber tidak ada,” ujarnya.

Merespons penjelasan Achmad, Andre Rosiade pun menanyakan kenapa Antam tidak membeli emas dari Freeport Indonesia yang saat ini 51,23% sahamnya dimiliki oleh MIND ID, induk dari Antam?

Achmad menjelaskan fasilitas pemurnian emas Freeport Indonesia di Jawa Timur baru mulai produksi tahun ini, setelah selama bertahun-tahun mengekspor dalam bentuk konsentrat.

Baca Juga :   Harga Emas Batangan Pagi Ini

“Oleh karena itu, per tahun 2025, Antam di bawah bimbingan MIND ID dan Freeport sudah membuat kerja sama. Ini mulai April mereka sudah mulai menghasilkan (emas murni), sampai akhir tahun itu diperkirakan akan ada mungkin maksimum 9 ton,” ujarnya.

Antam, tambahnya, sudah melakukan kontrak pembelian emas dari Freeport Indonesia sebanyak 25 ton hingga 30 ton.

Achmad menjelaskan sebenarnya potensi produksi emas murni di Indonesia saat ini mencapai 90 ton, hanya dari perusahaan-perusahaan legal, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Potensinya lebih besar lagi bila memperhitungkan produksi emas dari entitas yang belum legal, baik masyarakat maupun individu.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics