Perum Bulog Siagakan Stok Beras Sekitar 94 Ribu Ton untuk Penanganan Pasca-Gempa di NTT

0
11
Reporter: Rommy Yudhistira

Perum Bulog menyiagakan stok beras sebanyak 93.782 ton untuk penanganan pasca-gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Stok beras itu berasal dari ketersediaan beras di NTT, dan dukungan mobilisasi beras dari beberapa gudang Bulog di wilayah lain.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal menjelaskan, stok beras di wilayah NTT mencapai 26.336 ton per 22 Agustus 2026. Juga telah menyiapkan 67.446 ton beras untuk memperkuat ketersediaan itu, Bulog menyiapkan beras mobilisasi nasional (Movenas) sebanyak 67.446 ton yang berasal dari wilayah Jakarta, Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi barat, dan Nusa Tenggara Barat.

“Bulog menyiagakan stok beras sebanyak 93.782 ton untuk mendukung penanganan bencana di NTT. Stok tersebut berasal dari ketersediaan beras di wilayah NTT dan dukungan mobilisasi dari wilayah lain,” kata Rizal dalam keterangan resminya pada Rabu (26/8).

Berdasarkan catatan Bulog, kata Rizal, pihaknya memperkirakan kebutuhan beras untuk penanganan bencana alam di NTT sebesar 1.890 ton. Asumsi tersebut dihitung dari jumlah masyarakat terdampak sebanyak 150.576 orang, untuk 14 hari masa tanggap darurat.

Baca Juga :   Pembangunan Bendungan Manikin di NTT Capai Sekitar 83% dan Ditargetkan Rampung Akhir Tahun Ini

Namun, lanjut Rizal, Bulog mengambil langkah antisipasi dengan kemungkinan perpanjangan masa tanggap darurat sebanyak 10 kali lipat. Untuk itu, Bulog menyiapkan tambahan kebutuhan beras hingga 18.900 ton.

Selain itu, kata Rizal, Bulog juga memperhitungkan kebutuhan untuk mendukung bantuan pangan alokasi 3 bulan untuk 852.631 penerpa bantuan pangan (PBP). Dengan alokasi 10 kg per PBP per bulan, maka kebutuhan untuk 3 bulan mencapai 25.578 ton. Sehingga total kebutuhan beras yang diproyeksikan mencapai 46.368 ton.

Masih kata Rizal, kesiagaan stok tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pada saat bencana terjadi, tetapi juga untuk langkah antisipasi apabila masa tanggap darurat diperpanjang, maupun terjadi bencana tambahan di NTT.

“Prinsipnya, masyarakat terdampak bencana tidak boleh mengalami kesulitan mendapatkan pangan,” ujar Rizal.

Leave a reply

Iconomics