Sawit Berkontribusi Besar Bagi Perekonomian, Apindo Minta Pemerintah Buat Kebijakan yang Matang

1
384

Kebijakan pemerintah Indonesia yang sempat melarang ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya pada April dan Mei lalu menyebabkan Indonesia kehilangan sebagian pasar ekspornya dan direbut negara pesaing. Karena itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah agar kedepan lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan terkait industri sawit di dalam negeri. Apalagi, industri ini memiliki kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

“Pelajaran berharga dari kejadian yang lalu, yaitu kejadian gonjang-ganjing minyak goreng, itu juga ternyata memiliki dampak yang cukup besar untuk kelapa sawit kita. Terjadinya larangan eskpor justru menguntungkan pesaing kita yaitu Malaysia. Ini kita beharap kedepan, kebijakan-kebijakan seperti ini tentunya harus kita pikirkan lebih matang supaya apa yang diharapkan oleh pemeintah di dalam menstabilkan harga bahan pokok itu tercapai, tetapi di lain pihak jangan sampai industri kita mengalami kemunduran,” ujar ketua umum Apindo, Hariyadi Sukamdani di sala-sala Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2022 di Nusa Dua, Bali, Kamis (3/11).

Menurut Hariyadi, industri sawit telah berkontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia baik untuk tenaga kerja maupun ekspor. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) yang menaungi para pelaku industri ini, menurut Hariyadi merupakan salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga :   Komitmen pada Tata Kelola Sawit Berkelanjutan, Produksi CPO Bersertifikat ISPO Capai 22 Juta Ton

“Saya tidak terbayang kalau tidak ada Gapki beserta seluruh anggotanya, kita tidak mungkin mencapai ekspor sampai US$35 miliar. Dan sektor ini juga mempekerjakan lebih dari 17 juta orang yang menurut saya ini juga suatu kontribusi yang besar dalam mensejahterakan rakyat dan bangsa kita,” ujarnya.

IPOC merupakan event tahunan yang digelar Gapki untuk membahas berbagai isu-isu aktual terkait kelapa sawit. Dengan menghadirkan pembicara, baik pemeritah, pelaku industri nasional termasuk pembicara internasioinal, IPOC juga memproyeksikan kondisi pasar minyak sawit kedepan.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gapki dalam sambutannya pada pembukaan IPOC 2022 menyampaikan pada semester pertama 2022 ini, industri sawit mencapai puncak kejayaannya dengan harga yang melambung tinggi hingga US$1.800 per metrikton. Ini merupakan rekor harga tertinggi minyak sawit sepanjang sejarah.

Di dalam negeri, tambah Joko, kenaikan harga minyak sawit ini menyebabkan kenaikan harga minyak goreng. Pemerintah pun mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menstabilkan harga minyak goreng. Salah satunya adalah pembatasan ekspor sementara untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebijakan pembatasan ekspor ini tidak hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga bagi indusri sawit dalam negeri, termasuk bagi petani sawit.

Baca Juga :   Diselenggarakan di Bali, Ribuan Pebisnis Dunia Hadiri Konferensi Sawit IPOC 2022

Meski pemerintah kemudian mencabut kembali kebijakan larangan ekspor ini, tetapi Joko mengatakan pemulihan dari dampak kebijakan tersebut tidak semudah yang diharapkan.”Setelah dicabutkan kebijakan pembatasan ekspor ini, ekspor mulai meningkat, tetapi belum maksimal karena berbagai faktor mulai dari kelangkaan kapal pengangkut hingga daya beli yang melemah karena harga-harga yang meningkat,” ujar Joko.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

1 comment

Leave a reply

Iconomics