Sequis Life Tingkatkan Kesadaran Karyawan soal Pengelolaan Keuangan

0
52
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Asuransi Jiwa Sequis Life berupaya meningkatkan kesadaran karyawan terhadap pengelolaan keuangan, melalui kegiatan literasi keuangan. Ini bentuk dukungan terhadap program Gerakan Cerdas Keuangan (Gencarkan) 2026 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Chief Human Resources & Corporate Services Sequis Life Agustina Samara mengatakan, berdasarkan data OJK, outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) mencapai Rp 96 triliun, dengan pertumbuhan tahunan di kisaran 20%-30%. Dalam kondisi itu, Sequis Life menilai penggunaan pinjaman digital untuk kebutuhan konsumtif masih berpotensi memicu tekanan finansial yang berkepanjangan.

Atas dasar tersebut, kata Agustina, dibutuhkan literasi keuangan untuk membantu karyawan agar dapat membangun kondisi finansial yang lebih sehat, seimbang, dan berkelanjutan.

“Kesehatan finansial bukan hanya soal besar kecilnya penghasilan, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengelola prioritas, mengambil keputusan secara bijak, dan membangun ketenangan untuk masa depan,” ujar Tina dalam The Financial Literacy Talk-show “Seimbang Gaya Hidup Tanpa Terjebak” di Jakarta, Kamis (4/6).

Melalui literasi keuangan, kata Tina, Sequis Life berharap edukasi finansial dapat membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Baca Juga :   Dengar Keluhan Wanda Hamidah, Prudential Janji Evaluasi soal Perlindungan Asuransinya

“Kami percaya bahwa kondisi finansial karyawan lebih sehat akan dapat bekerja lebih fokus dan lebih tenang. Karena itu, edukasi finansial menjadi bagian penting dari komitmen Sequis Life sekaligus budaya pembelajaran dan pengembangan karyawan untuk mendukung wellbeing, produktivitas, dan menciptakan better tomorrow bersama,” tambah Tina.

Sementara itu, financial planner Maryadi Santana menambahkan, berbagai risiko yang ditimbulkan akibat pinjaman daring. Semisal, bunga dan denda yang tinggi, jebakan utang, risiko kebocoran data pribadi, hingga tekanan mental yang dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun profesional.

Untuk menjaga kesehatan finansial, kata Maryadi, masyarakat perlu memupuk kebiasaan mengatur anggaran, memahami kebutuhan prioritas, dan mengurangi perilaku konsumtif impulsif.

“Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta lebih cermat dalam memilih sumber pendanaan. Pinjol memang menawarkan kemudahan dalam hitungan menit, tetapi dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang apabila melebihi kemampuan bayar,” ujar Maryadi.

Leave a reply

Iconomics