46 Tahun Reaktifasi Pasar Modal Indonesia; Baru 4,1% Penduduk Indonesia yang Jadi Investor

1
272

Tepat 10 Agustus 1977 atau 46 tahun lalu, melalui keputusan presiden RI, pasar modal Indonesia diaktifkan kembali, setelah cukup lama non aktif karena kondisi ekonomi politik yang kurang kondusif.

Iman Rachman, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan selama 46 tahun sejak diaktifkan kembali, pasar modal Indonesia mengalami pertumbuhan positif seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah dan sinergi yang baik antara para pelaku pasar modal Indoensia.

“Meski beberapa kali mengalami tantangan, sampai sekarang pasar modal kita tetap resilient dan mencapai milestone yang membanggakan. Perjalanan pasar modal kita yang luar biasa selama 46 tahun terakhir ini tentu perlu kita rayakan seraya tetap waspada akan kondisi masa depan yang belum pasti,” ujar Iman di Main Hall BEI, Kamis (10/8).

Iman mengungkapkan hingga pertengahan tahun ini, pasar modal Indonesia masih dapat mencatatkan berbagai rekor pertumbuhan. Diantaranya, total kapitalisasi pasar saham telah berhasil tembus lebih dari Rp10 ribu triliun atau 50% dari PDB, dengan IHSG yang masih tumbuh positif 0,4% di level 6.875 per 9 Agustus 2023.

Baca Juga :   Setelah Bertemu, Ini Harapan Pemegang Polis Wanaartha kepada Ketua DPD RI

Jumlah Initial Public Offering (IPO) mencapai lebih dari 50 emiten per tahun yang merupakan yang tertinggi di Asean dalam 5 tahun terakhir, sekaligus mengantarkan 886 perusahaan tercatat di BEI, terbanyak kedua di Asean setelah Bursa Efek Thailand.

Jumlah investor pasar modal juga meningkat tajam, mencapai 11,5 juta atau tumbuh 35 kali lipat dalam satu dekade teakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar memberikan catatan khusus soal jumlah investor ini. Menurutnya, hal yang menggembirakan dari jumlah investor pasar modal ini adalah dari 11,5 juta investor itu, 57% adalah generasi milenial dan Gen Z.

“Mereka ini akan menjadi para investor mapan dan besar pada saat 2045 tahun Indonesia emas,” ujar Mahendra.

Namun, Mehendra mengingatkan bahwa dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, jumlah investor pasar modal ini masih terbilang kecil, baru 4,1% dari total populasi Indonesia.

“Tetapi saya melihatnya dalam perspektif pribahasa ‘gelas penuh gelas kosong’. Bayangkan saja [meski baru] 4,1% populasi, [tetapi] sudah menjadi yang terbesar di Asean, sudah menjadi top 23 market cap in the world dan sudah 50% [market cap] dari PDB. Bayangkan potensinya. The sky is the limit. Kalau untuk pasar modal, even the sky is not the limit,” ujar Mahendra menyinggung masih besarnya potensi pertumbuhan pasar modal ke depan.

Baca Juga :   OJK Ungkap Dua Bank 'yang Lumayan Besar' akan Melakukan Merger, Rampung Bulan Juni

Agar potensi pertumbuhan ini dapat diwujudkan, menurut Mahendra, kata kuncinya adalah “terus tingkatkan integritas”. “Integritas pelaku pasar, anggota bursa, integritas produk-produknya, integritas emitennya, integritas profesi penunjang pasar modal, integritas SRO, dan tentu saja integritas pengawas dan regulatornya. Hal itu adalah fokus utama kita bersama-saam ke depan dan itu esensi dari bersinergi,”ujarnya.

Sementara itu, Iman Rachman mengatakan untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar modal Indonesia, SRO bersama OJK serta didukung oleh stakeholder telah melucurkan serangkaian inisiatif strategis pada tahun 2023. Salah satu diantaranya adalah kampanye ‘aku investor saham’, yang merupakan lanjutan dari kampanye sebelumnya dan memiliki pesan kebanggaan, iklusifitas dan kemajuan.

“Tujuannya untuk mendorong peningkatan jumlah investor sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia bisa menikmati potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia,” ujar Iman.

1 comment

Leave a reply

Iconomics