ABM Investama Catat Pendapatan Konsolidasi Mencapai US$1.038 Juta
Ilustrasi pertambangan batubara/ABM
PT ABM Investama Tbk mencatat pendapatan konsolidasian sebesar US$1.038,2 juta pada periode yang berakhir pada 31 Desember 2025. Pendapatan tersebut lebih rendah 13,5% secara tahunan (YoY). Kondisi ini dipengaruhi oleh melemahnya harga batubara serta tantangan operasional yang signifikan akibat faktor eksternal.
Perseroan juga menyampaikan Adjusted EBITDA tercatat sebesar US$339,3 juta. Adapun laba bersih tercatat sebesar US$70,6 juta.
“Kinerja Perseroan pada tahun ini mencerminkan hasil dari pelaksanaan strategi yang kami jalankan secara konsisten di seluruh unit usaha. Dengan berfokus pada keunggulan operasional serta pengelolaan keuangan yang disiplin, kami telah memperkuat fundamental Perseroan dan menjaga daya saing serta kinerja di tengah persaingan industri melalui optimalisasi aset operasional dan pengelolaan investasi strategis secara efektif guna mendukung pertumbuhan jangka panjang. Perseroan senantiasa waspada terhadap perubahan lingkungan eksternal dan berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi penciptaan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Direktur PT ABM Investama Tbk, Hans Manoe dalam keterangannya.
Perseroan juga menyebut segmen bisnis perdagangan bahan bakar mencatat volume penjualan sebesar 357,4 juta liter. Adapun bisnis logistik mencatat kinerja yang solid dengan tingkat ketepatan waktu pengiriman (ontime delivery rate) sebesar 94,5%. Demikian halnya pada segmen bisnis jasa dan fabrikasi berhasil meningkatkan tingkat ketepatan pengiriman secara menyeluruh (on-time-in-full) menjadi 83,8%.
Sepanjang tahun 2025, Perseroan memfokuskan pelaksanaan berbagai strategi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas operasional serta pengelolaan liabilitas secara strategis guna menjaga struktur neraca yang kuat dan pengelolaan arus kas yang lebih prudent. Upaya tersebut menghasilkan perbaikan kinerja pada 2H25 dibandingkan 1H25, yang ditandai dengan peningkatan indikator operasional utama, yaitu volume pengupasan lapisan penutup dan coal getting yang masing-masing meningkat sebesar 9,8% dan 19,7%.
Peningkatan kinerja operasional ini tercermin dalam indikator pencapaian keuangan yang lebih baik pada 2H25, dengan pendapatan konsolidasian meningkat 4,8%, sementara biaya pendapatan terkoreksi tipis sebesar 3,9%. Kondisi tersebut menghasilkan pertumbuhan laba kotor sebesar 142,7% pada 2H25 dibandingkan 1H25, yang menegaskan efektivitas arah strategis Perseroan dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat ketahanan bisnis dalam periode berikutnya
Pada tahun 2026, Perseroan akan memfokuskan pengembangan operasional tambang batubara di Provinsi Aceh yang telah berhasil merealisasikan penjualan batubara perdana pada Februari 2026. Tambang tersebut diharapkan dapat mencapai produksi bulanan yang stabil untuk mendukung kinerja Perseroan sepanjang 2026. Selain itu, aset tambang batubara yang baru diakuisisi di Kalimantan
Tengah saat ini tengah menjalani proses kelengkapan perizinan yang diperlukan menjelang target Tanggal Operasi Komersial (COD) pada kuartal III 2026. Sejalan dengan pedoman yang berlaku, Perseroan tetap berkomitmen penuh untuk menerapkan dan menjunjung tinggi prinsip Good Mining Practices di seluruh lokasi operasional.
Kedepannya, Perseroan juga akan terus melaksanakan inisiatif strategis jangka panjang yang berfokus pada pengembangan sumber pendapatan non-batubara, khususnya pada segmen logistik dan pabrikasi, melalui pertumbuhan non-organik di bisnis-bisnis yang berdekatan (adjacent businesses).