IFSoc Dukung Rencana Perusahaan Teknologi untuk IPO

0
425

Indonesia Fintech Society (IFSoc) menyambut baik langkah berbagai perusahaan teknologi Indonesia untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) sebagai upaya penguatan modal. Itu untuk memberikan fondasi peningkatan pertumbuhan dan daya saing perusahaan hingga tingkat global.

Ketua Steering Committee IFSoc, Mirza Adityaswara menuturkan, perusahaan teknologi telah memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan juga mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perusahaan teknologi melakukan berbagai inovasi melalui aplikasi transportasi, teknologi finansial (tekfin), e-commerce, layanan pesan antar, edutech, hingga pendanaan UMKM (P2P Lending) sehingga roda ekonomi dapat terus berjalan di tengah pandemi Covid-19.

Bahkan pemerintah, kata Mirza, telah memanfaatkan tekfin untuk mendistribusikan insentif program Kartu Prakerja. Hal ini membuat perusahaan teknologi memiliki pertumbuhan yang sangat masif, sehingga membuat adanya kebutuhan akan modal tambahan. Namun saat ini, investor asing masih mendominasi dibandingkan investor lokal.

“IPO perusahaan teknologi nasional memiliki arti strategis bagi arah ekonomi digital Indonesia termasuk membuka akses lebih luas dan likuid bagi investor yang ingin ambil bagian dalam perkembangan industri ekonomi digital. Oleh karena itu, IFSoc memandang perlunya kebijakan yang tepat untuk memfasilitasi tercapainya potensi pertumbuhan dengan tetap mempertimbangkan kaidah perlindungan terhadap investor minoritas,” kata Mirza dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Kredivo: Berdamai dengan Covid-19 = Adaptasi dengan New Normal

Soal keinginan perusahaan teknologi itu untuk IPO, Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mulai membahas untuk menyesuaikan regulasi sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan industri ekonomi digital Indonesia. Saat ini, 7 dari 11 unicorn Asia Tenggara berasal dari Indonesia dengan total valuasi mencapai US$ 38miliar. Hal ini membuat IPO perusahaan teknologi nasional memiliki peran strategis.

Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan sektor ekonomi digital berkembang pesat di Indonesia, di mana sekitar 70 startup centaur (valuasi di atas US$ 100 juta) di Asia Tenggara dan 38% centaur tersebut berasal dari Indonesia. Uniknya, sebagian besar perusahaan tersebut mengandalkan mekanisme pendanaan secara tertutup. Sedangkan menurut IFSoc, 2 tahun terakhir, saham-saham perusahaan teknologi berperan positif dalam menggerakan pasar modal, di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.

 

Leave a reply

Iconomics