Nelangsa di Hari Pertama, Harga Saham ‘Ayam Goreng Nelongso’ Berbalik dari ARA Jadi ARB

0
272

PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) yang merupakan perusahaan restoran dengan brand Ayam Goreng Nelongso resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 15 Februari 2024.

Pada hari pertama debutnya di lantai Bursa, pergerakan harga saham Ayam Goreng Nelongso ini berbalik arah dari Auto Rejection Atas (ARA) menjadi Auto Rejection Bawah (ARB).

Mengutip RTI, harga saham Ayam Goreng Nelongso pada awal perdagangan dibuka pada level Rp346 per saham  atau naik 24,46% dari harga perdana Rp278 per saham alias menyentuh batas atas kenaikan harga saham (ARA).

Sayangnya, tak bertahan lama, harga puncak tersebut anjlok hingga level Rp210 per saham, turun 24,46% alias menyentuh level terbawah (ARB).

Hingga pukul 10.14 WIB, harga saham Ayam Goreng Nelongso bergerak pada rentang terendah Rp210 hingga tertinggi Rp346 per saham.

Ayam Goreng Nelongso melepaskan sebanyak 225 juta saham ke publik. Dengan harga perdana Rp278 per saham, dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini mencapai Rp62,55 miliar.

“Suatu kehormatan bagi kami mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk menjadi salah satu perusahaan yang bisa tercatat di Bursa Efek Indonesia,” ujar Nanang Suherman, Direktur Utama Ayam Goreng Nelongso di Main Hall BEI.

Nanang berharap dengan melantai di Bursa, Peseroan akan terus meningkatkan nilai asetnya (unlock value).

“Semoga perusahaan ini bisa bertumbuh dan berkembang sesuai goal saya bahwa tahun 2026 untuk go international,” ujar Nanang.

Ayam Goreng Nelongso telah memiliki cabang dan kemitraan 64 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia. Bermula di kota Malang, Jawa Timur, kini Perseroan memiliki mitra di Jabodebek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Perseroan juga mengembangkan bisnis food supply yang membantu masyarakat untuk mulai berbisnis dengan kemitraan, jual beli bahan baku segar berupa sembako, cabai sampai dengan ayam.

Sebagian besar yaitu sekitar 65,69%, dana hasil IPO ini digunakan untuk operational expenditure di antaranya untuk pembelian bahan baku; dan biaya biaya pengembangan produk, marketing dan branding.

Selain itu, sekitar 21,37% digunakan untuk renovasi outlet, gudang dan kantor dan sistem otomatisasi dalam rangka mendukung bisnis Perseroan untuk penyimpanan persediaan bahan baku yang lebih besar.

Jumlah outlet dan gudang yang akan direnovasi oleh Perseroan masing-masing sebanyak 23 outlet (di dalamnya sudah termasuk 18 gerai yang sewanya akan diperpanjang), dan 1 gudang.

Saat ini utilisasi gudang Perseroan baik yang terdapat di Malang maupun di Jakarta telah mencapai kapasitas sekitar 90%, namun demikian Perseroan akan melakukan renovasi terlebih dahulu pada gudang yang berlokasi di daerah Malang.

Sekitar 9,64% dana hasil IPO juga  digunakan untuk perpanjangan sewa outlet lama untuk mendukung ekspansi bisnis Perseroan. Perseroan akan memperpanjang sewa terhadap 18 outlet lama dengan total nilai sewa sekitar Rp5,6 miliar dan akan dilakukan dengan pihak ketiga.

Kemudian, sekitar sebesar 3,30% dana IPO lainnya digunakan Perseroan untuk pembelian mesin dan kendaraan operasional untuk menunjang proses distribusi produk dan bahan baku yang lebih optimal.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics