Direktur Utama Allo Bank Bicara Peluang dan Tantangan Bank Digital di Indonesia
Indra Utoyo, Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Indonesia Banking Summit 2022 “The Next Phase of Banking in Indonesia” yang digelar Theiconomics, Jumat (9/9), di JS Luwansa Hotel, Jakarta/Foto: Theiconomics
Berkembangnya teknologi digital membuat semua bisnis model menjadi mungkin, bahkan yang paradoks pun bisa sejalan. Produk dan layanan yang berkualitas bagus, kini dapat dinikmati dengan harga yang murah. Dulu, kalau mau cepat, ya, harus mahal.
“Kalau sekarang yang paradoks-paradoks bisa dipertemukan dengan digital, kemudian diakselerasi, enabler-nya para milenial, diakselerasi lagi oleh Covid,” ujar Indra Utoyo, Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Indonesia Banking Summit 2022 “The Next Phase of Banking in Indonesia” yang digelar Theiconomics, Jumat (9/9), di JS Luwansa Hotel, Jakarta.
Indra mengatakan semua sektor kini berubah, melakukakan transformasi ke digital. Apalagi era new normal pasca pandemi ini, adaptasi ke digital adalah keniscayaan.
“Tidak hanya perusahaan tetapi juga individu, semua beradaptasi dengan cara-cara baru, dan semua sektor juga berubah,” ujar mantan direktur BRI ini.
Tak hanya e-commerce, saat ini sektor pendidikan, kesehatan dan lainnya, semua bergeser ke digital.
“Sektor keuangan kemudian menjadi enabler, menjadi embedded finance yang memfasilitasi dari aspek pembayarannya, kemudian dari aspek pembiayaan, penyimpanan/penempatan dana dan lain sebagainya,” ujar Indra.
Di sektor keuangan, tambah Indra, pemain-pemain baru seperti fintech telah membawa sistem pembayaran bertransformasi ke digital. “Fintech membuat kita bayar-bayaran dengan model e-wallet, dengan QRIS dan sebagainya yang sekarang sudah menjadi sesuatu yang lazim dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.
Bank pun mau tidak mau harus berubah. Layana digital perbankan kini tak cukup lagi hanya mobile banking, ATM, dan EDC. Dalam era digital ini, menurut Indra, customer adalah pusat (centric). Pelanggan yang kini menjadi jurinya.
“Karena kita masuk ke era customer centric, bank kemudian harus membuka diri, masuk ke era open banking. Inilah era bank 4.0, dimana bank melakukan kolaborasi masif dengan partner-partner yang dulu enggak connected. Sekarang bank connected dengan fintech, finctech payment, ride sharing, e-commerce dan lain sebagainya, untuk kemudian melakukan kolaborasi,” ujarnya.
Bank-bank konvensional kini semua bertransformasi. Indra mengatakan layanan bank konvensional saat ini semakin digital dengan super apps dan hybrid banking. Kehadiran di ranah fisik tetap dimaksimalkan, tetapi juga hadir secara digital.
Indra Utoyo, Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Indonesia Banking Summit 2022 “The Next Phase of Banking in Indonesia” yang digelar Theiconomics, Jumat (9/9), di JS Luwansa Hotel, Jakarta/Foto: Theiconomics
Di sisi lain, juga muncul pemain-pemain baru yang hadir totally digital, seperti Allo Bank. Pemain-pemain baru ini kemudian berkolaborasi dengan eksosistem fisik, sehingga lahirlah yang disebut phygital.
Bank digital menurut Indra terus bergerak. Mulai dari digital produk. Kemudian masuk ke digital experiece. Selanjutnya, menjadi bank as a platform, dimana sebuah super apps, tidak hanya menampung produknya sendiri di dalam platform, tetapi juga berbagai produk. Kemudian berkembang lagi menjadi bank as a platform dimana, front end-nya harus mengikuti apa mauya customer. Front end itu bisa hadir di aplikasi ride sharing, di e-commerce, dan lainnya. Dengan kata lain, bank masuk ke ekosisten non finansial mengikuti journey dari customer.
Perkembangan digitalisasi di sektor keuangan ini didukung penuh oleh regulator. Indra mengatakan Bank Indonesia sangat agresif mendorong sistem pembayaran digital makin masif dengan kebijakan-kebijakan luar biasa yang tidak kalah dengan negara-negara lain.
“Sekarang sudah didorong yang namanya QR Payment masif dimana-mana dengan QRIS, kemudian BI Fast dengan fast payment, kemudian QRIS akan masuk ke corss border. Kemudian juga ada open banking yang didorong supaya koneksi antara berbagai pemain itu bisa dilakukan dengan kolaborasi masif,” ujarnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong agar pelaku-pelaku industri semakin bertransformasi secara digital. Di sisi lain, OJK juga mendoromg pelaku industri untuk tetap memperkuat dari sisi manajemen risiko, karena risiko digital juga makin besar.
Namun, pekerjaan rumah dari sisi regulasi, menurut Indra adalah keselarasan regulasi di sektor keuangan dengan sektor telekomunikasi yang menjadi fondasi ekonomi digital.
“Kita harus sadar, begitu masuk ke era ekonomi digital, sebetulnya fondasinya itu telko. Sementara industri ini diatur secara terpisah. Telko yang atur Kominfo, kemudian keuangan yang atur BI dan OJK. Ada daerah tak bertuan yang tidak diatur, maka terjadilah kondisi dimana fraud itu terjadi, karena orang ganti-ganti SIM Card itu dengan mudahnya di telko,” ujarnya.
Pelaku industri juga masih menunggu regulasi perlindungan data pribadi. Hingga kini, DPR masih membahas undang-undang perlindungan data pribadi. Menurut Indra, keberadaan undang-undang perlindungan data pribadi ini penting agar masyarakat semakin nyaman dan inovasi teknologi terus berkembang.
Indra Utoyo, Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk, ketika menjadi pembicara dalam Seminar Indonesia Banking Summit 2022 “The Next Phase of Banking in Indonesia” yang digelar Theiconomics, Jumat (9/9), di JS Luwansa Hotel, Jakarta/Foto:Theiconomics
Bericara mengenai Allo Bank sendiri, Indra mengatakan sebagai bank digital, Allo Bank hadir dengan merangkul berbagai ekosistem, baik fisik maupun digital. “Oleh karena itu kita sebut ini sebagai phygital,” ujarnya.
Phygital infrastructure memadukan antara ekosistem fisik dan digital. Digitalnya adalah platform super apps dari Allo yang kemudian dikoneksikan dengan jaringan fisik atau yang disebut sebagai ekosistem non finansial.
Apa saja ekosisten non finansialnya? Indra mengatakan ada Transmart sendiri, kemudian Indomaret, Bukalapak, Mitra Bukalapak dan sebagainya. “Itulah paduan yang kita harapkan bisa menimbulkan sebuah experience yang semakin memudahkan,” ujarnya.
Dalam dua bulan terakhir ini, Indra mengungkapkan ada pertumbuhan yang cukup signifikan jumlah customer Allo Bank yaitu dari 2 juta menjadi 2,85 juta customer. Pengembangan ekosistem ini, tambahnya, tidak cukup pada eksostem CT Corp, tetapi juga para pemegang saham Allo Bank lainnya seperti Bukalapak, juga ada Indomaret, Indogrosir, Grab, Traveloka, dan sebagainya.