Selama Covid-19, Pendapatan KAI dari Angkut Penumpang Anjlok 93%

Reporter: Yehezkiel Sitinjak
0
49

Kereta Api Argo CheribonKereta Api Argo Cheribon/Antara

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami tekanan arus kas yang mendalam sebagai dampak wabah Covid-19. Bahkan tercatat penurunan pendapatan pengangkutan penumpang karena Covid-19 mencapai 93%.

“Pendapatan dari penumpang turunnya luar biasa. Sekarang ini pendapatan dari penumpang kita hanya sekitar 10% hingga 7% dari RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) kami,” kata Direktur Utama PT KAI Didiek Sukmoro saat telekonferensi pers, Jumat (22/5).

Karena itu, kata Didiek, perseroan telah mencatat defisit terhadap kas operasional sejak pertengahan Maret 2020. Pendapatan KAI dari pengangkutan penumpang sebelum masa pandemi bisa sekitar Rp 20 miliar hingga Rp 25 miliar per hari. Sejak wabah virus corona merebak, pendapatan penumpang hanya sekitar Rp 400 juta per hari.

Untuk bulan April lalu, misalnya, pendapatan penumpang KAI hanya sekitar Rp 32 miliar. Sedangkan untuk bulan Mei 2020, perseroan telah menghentikan hampir seluruh pengoperasian kereta jarak jauh, sehingga hanya mengoperasikan kereta lokal atau commuterline.

Kendati demikian, Didiek memastikan likuiditas keuangan PT KAI masih dalam posisi yang aman. Sebab, saat bersamaan KAI juga sedang melakukan efisiensi dan pemotongan biaya operasional.

Baca Juga :   LPDB akan Berikan Fasilitas Restrukturisasi Kredit UMKM

Langkah-langkah efisiensi itu berupa relaksasi pembayaran perawatan terhadap kereta-kereta yang tidak beroperasional, dan pengajuan relaksasi kepada perbankan untuk menunda pembayaran angsuran pokok pinjaman selama 12 bulan dihitung mulai Maret 2020.

“Kewajiban angsuran pokok kita setahun sekitar Rp 1,1 triliun, dan itu kita sudah bayar sampai bulan Maret sekitar Rp 350 miliar. Yang kita mintakan relaksasi sekitar Rp 750 miliar untuk angsuran pokok sisa dari bulan Maret sampai Desember 2020, kita mintakan kepada perbankan untuk beri relaksasi hingga satu tahun.” katanya.

Selain itu, kata Didiek, investasi terhadap proyek-proyek non-urgent akan ditunda dulu. Dengan demikian, anggaran investasi (capex) untuk tahun ini telah dipotong dari Rp 12 triliun menjadi Rp 9 triliun.

 

Leave a reply