Emas Jadi Kontributor Utama Inflasi Sepanjang 2025, Inflasi Desember Capai 0,64%
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi sepanjang 2025 relatif terkendali. Kenaikan harga emas dan emas perhiasan tercatat sebagai kontributor utama inflasi tahun lalu tersebut.
Hingga akhir Desember 2025, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sekaligus inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,92 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember pada periode 2021–2024, kecuali pada tahun 2022.
“Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025,” kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, BPS, dalam konferensi pers, Senin (5/1).
Ismartini menyampaikan secara umum, selama 2025 komponen harga bergejolak dan komponen inti lebih sering muncul sebagai pendorong utama inflasi bulanan.
Khusus untuk Desember 2025, tingkat inflasi tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan ini ditandai dengan meningkatnya IHK dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92 pada Desember 2025.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,66 persen dan kontribusi 0,48 persen terhadap inflasi Desember. Komoditas utama pendorong inflasi pada kelompok ini antara lain cabai rawit dengan andil 0,17 persen, daging ayam ras sebesar 0,09 persen, bawang merah sebesar 0,07 persen, ikan segar sebesar 0,04 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,03 persen.
Selain pangan, sejumlah komoditas nonpangan juga memberikan tekanan inflasi. Emas perhiasan tercatat menyumbang andil inflasi sebesar 0,07 persen, diikuti bensin sebesar 0,03 persen, serta tarif angkutan udara sebesar 0,02 persen. Di sisi lain, cabai merah masih menjadi peredam inflasi dengan andil deflasi 0,03 persen.
Ditinjau menurut komponen, seluruh komponen mengalami inflasi pada Desember 2025. Komponen harga bergejolak mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,74 persen dan memberikan andil terbesar yakni 0,45 persen, terutama dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi 0,20 persen dengan andil 0,12 persen, yang terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dan minyak goreng. Adapun komponen harga diatur pemerintah mencatat inflasi 0,37 persen dengan andil 0,07 persen, dipengaruhi oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota.
Secara historis, inflasi pada bulan Desember cenderung lebih tinggi karena bertepatan dengan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk Natal dan Tahun Baru. Dalam lima tahun terakhir, kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara konsisten menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Desember, dan pola tersebut kembali terlihat pada Desember 2025.
Seluruh Provinsi Inflasi, Aceh Tertinggi
Secara spasial, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi pada Desember 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh sebesar 3,60 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Maluku Utara sebesar 0,05 persen.
Sejumlah provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami inflasi pada Desember setelah sebelumnya mencatat deflasi di November 2025. Lonjakan harga di wilayah-wilayah tersebut dipengaruhi oleh dampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 yang mengganggu pasokan pangan. Di Aceh, inflasi terutama didorong kenaikan harga beras, di Sumatera Utara oleh cabai rawit, dan di Sumatera Barat oleh bawang merah.