Aset Bank Nobu Tembus Rp41,2 Triliun, Laba Bersih Melonjak 46% pada 2025

0
64

PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025, dengan pertumbuhan signifikan pada aset, liabilitas, serta laba bersih.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, total aset perseroan mencapai Rp41,22 triliun, meningkat 23,67% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp33,33 triliun. Manajemen menjelaskan, pertumbuhan aset terutama didorong oleh peningkatan kredit yang diberikan sebesar 20,03%, serta kenaikan penempatan pada bank lain dan surat berharga sebesar 23,57%.

“Total aset Perseroan tumbuh 23,67% per 31 Desember 2025 dibandingkan akhir tahun sebelumnya yang disebabkan terutama oleh peningkatan kredit yang diberikan serta penempatan pada bank lain dan surat berharga,” tulis Mario Satrio, Corporate Secretary PT Bank Nationalnobu Tbk dalam surat ke Bursa Efek Indonesia, dikutip 18 Maret.

Berdasarkan laporan keuangan, kredit yang diberikan (bruto) tercatat sebesar Rp24,24 triliun pada 2025, meningkat sekitar 20,6% dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp20,18 triliun. Sementara itu, kredit bersih mencapai Rp23,99 triliun, naik dari Rp20,03 triliun pada tahun sebelumnya.

Baca Juga :   OJK Sebut Merger Bank MNC dan Nobu 'Tidak akan Mundur' Lagi

Sejalan dengan itu, total liabilitas perseroan juga meningkat 24,83% menjadi Rp37,05 triliun dari Rp29,68 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18,76% serta peningkatan liabilitas dari efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo) sebesar 35,64%.

DPK yang dihimpun perseroan tercatat mencapai Rp28,97 triliun, sementara liabilitas repo sebesar Rp6,03 triliun.

“Peningkatan tersebut sejalan dengan strategi pengembangan usaha Perseroan sepanjang tahun 2025,” tulis Mario.

Dari sisi profitabilitas, Bank Nationalnobu membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp481,32 miliar pada 2025, meningkat sekitar 46% dibandingkan Rp329,00 miliar pada 2024.

Lonjakan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh penguatan pendapatan bunga bersih serta kontribusi signifikan dari pendapatan berbasis komisi.

Seiring dengan ekspansi kredit yang tumbuh sekitar 20,6%, bank berhasil meningkatkan pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar 14,2% menjadi Rp1,13 triliun dari Rp992,86 miliar pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kinerja juga didorong oleh lonjakan pendapatan non-bunga. Pendapatan operasional lainnya meningkat tajam sekitar 69,7% menjadi Rp492,69 miliar dari Rp290,41 miliar, terutama ditopang oleh kenaikan provisi dan komisi sebesar 74,4% menjadi Rp469,27 miliar. Peningkatan fee-based income ini memberi dorongan kuat terhadap profitabilitas karena lebih efisien dibanding pendapatan bunga.

Baca Juga :   Hampir Dua Tahun Berlalu, Apa Kabar Rencana Merger Bank Nobu dan MNC Bank?

Dari sisi biaya, beban operasional naik 17,9% menjadi Rp879,24 miliar dari Rp745,84 miliar, masih lebih rendah dibanding pertumbuhan pendapatan. Hal ini mendorong laba operasional melonjak 47,2% menjadi Rp618,67 miliar dari Rp420,16 miliar pada 2024.

Sementara itu, biaya pencadangan kerugian kredit (CKPN) hanya meningkat sekitar 10,0% menjadi Rp129,01 miliar, relatif terkendali dibanding pertumbuhan kredit.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics