Kabid Komunikasi Gapki Ungkap Sederetan Tantangan Industri Sawit, Salah Satunya Gap Produktivitas

0
184
Reporter: Maria Alexandra Fedho

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit di Indonesia, khususnya soal produktivitas panen kelapa sawit.

Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi mengatakan beberapa tantangan di industri kelapa sawit mengenai level produktivitas, khususnya pada smallholders atau petani. Gap produktivitas antara perusahaan kelapa sawit swasta dengan petani jauh sekali.

Tofan menyebut bahwa perusahaan kelapa sawit dapat memanen sekitar 25 ton per hektar, sedangkan untuk smallholders hanya pada kisaran 15 ton atau bahkan di bawahnya sampai 10 ton.

“Nah gap-nya itu masih sangat tinggi, artinya ada ruang yang sangat besar untuk memperbaiki itu,” kata Tofan dalam FGD Sawit Berkelanjutan ‘Mendorong Keterlibatan Masyarakat Pedesaan Hasilkan Minyak Sawit Berkelanjutan’ pada 31 Januari 2023.

Belum lagi bila menanam bibit yang keliru sehingga membutuhkan waktu 25 tahun untuk menunggu agar buahnya bisa lebih baik. Oleh karena itu, pemerintah hadir dalam sebuah program replanting untuk para petani ini.

“Program percepatan peremajaan sawit rakyat, replanting untuk smallholders itu tujuannya, salah satunya adalah untuk mempersempit gap productivity antara perkebunan besar swasta-BUMN dengan smallholders,” jelas Tofan.

Baca Juga :   Kebijakan Kemendag soal HET Minyak Goreng Dinilai Tidak Efektif

Tantangan selanjutnya mengenai biaya produksi yang semakin mahal dan adanya perang Rusia dan Ukraina yang belum berakhir menyebabkan susah mendapat harga pupuk murah.

Tantangan lainnya adalah regulasi pemerintah yang dikeluarkan harus bisa mendukung kemajuan industri minyak sawit. Dan tak kalah penting isu mengenai keberlanjutan dari sustainability yang harus terus berlanjut.

Leave a reply

Iconomics