Laba Sebelum Pajak Maybank Indonesia Naik 38,9% Menjadi Rp2,22 Triliun
Kantor pusat Maybank Indonesia/Dok. Maybank
PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia) membukukan Laba Sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp2,22 triliun sepanjang tahun lalu. Perolehan tersebut meningkat 38,9% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/Y-o-Y).
Sementara itu, Laba Setelah Pajak dan Kepentingan Nonpengendali (PATAMI) naik 48,5% menjadi Rp1,66 triliun, didukung oleh biaya provisi yang terus menurun serta pengelolaan biaya yang lebih baik.
Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 1,6% Y-o-Y, didukung oleh penerapan risk-based pricing yang disiplin serta pergeseran komposisi pendanaan ke sumber yang lebih efisien. Marjin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) tercatat sebesar 4,3% pada 2025.
Pendapatan Nonbunga (Non-Interest Income/NOII) tumbuh 8,1%, terutama ditopang oleh pendapatan Global Markets yang membaik menjadi Rp441 miliar, serta kontribusi dari asset recovery dan wealth management. Dengan demikian, Bank mencatat Gross Operating Income (GOI) sebesar Rp9,55 triliun, naik 3,1% Y-o-Y.
Beban overhead tetap terkendali dengan peningkatan hanya 2,4%, lebih rendah dibandingkan kenaikan 8,5% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini tercapai melalui upaya berkelanjutan Bank dalam mengoptimalkan biaya operasional. Rasio efisiensi operasional (BOPO) tercatat sebesar 86,3%.
Laba Operasional Sebelum Provisi (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) tumbuh 4,8% Y-o-Y menjadi Rp3,10 triliun. Beban pencadangan turun 28,7% dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan pengelolaan kredit yang prudent serta impairment charges yang lebih rendah pada 2025.
Pencapaian sepanjang 2025 menandai selesainya implementasi strategi transformasi tiga tahun M25+ yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis, peningkatan kapabilitas organisasi, serta pencapaian pertumbuhan berkelanjutan. Melalui lima pilar bisnis yang dijalankan secara terintegrasi, strategi ini memperkuat struktur operasional dan model bisnis Bank, sekaligus membangun fondasi yang lebih solid untuk ketahanan dan penciptaan nilai jangka panjang.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menyampaikan bahwa 2025 menjadi momentum penting bagi Bank dalam memperkuat profitabilitas dan fundamental usaha, sejalan dengan penerapan strategi prioritas di tengah ketidakpastian pasar.
“Di sepanjang 2025, kami berfokus untuk meningkatkan kualitas pendapatan yang mumpuni serta berkelanjutan pada sejumlah lini bisnis kami yang terus menunjukkan perkembangan. Kami juga secara disiplin mengelola biaya serta mengoptimalkan struktur pendanaan, dengan pengelolaan risiko yang kuat, sehingga profitabilitas kami meningkat, diiringi kualitas aset yang semakin sehat, serta neraca yang lebih resilien,” ujar Steffano.
Steffano menambahkan, sebagai salah satu home market Maybank Group, Maybank Indonesia akan terus berjalan selaras dengan arah strategis Grup, dengan fokus pada penyediaan solusi keuangan berorientasi nasabah, pertumbuhan bisnis yang disiplin, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Sementara itu, Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menyampaikan bahwa kinerja Bank pada Tahun Buku 2025 mencerminkan fundamental yang semakin kuat serta konsistensi dalam menjalankan strategi, sehingga Bank siap melanjutkan pertumbuhan ke depan.
Ia mengatakan Maybank Group baru-baru ini meluncurkan strategi ROAR30, yakni rencana lima tahun paling ambisius dalam sejarah Grup, yang dibangun di atas momentum strategi M25+ dengan fokus pada percepatan pertumbuhan, penguatan kapabilitas bisnis dan teknologi, serta keberlanjutan.
“Kami akan menjalankan ROAR30 dengan mengedepankan misi Humanising Financial Services, yang diwujudkan melalui penawaran berbasis nilai dan fokus pada tiga tujuan utama, yaitu menghadirkan pengalaman terbaik bagi nasabah, memberikan dampak positif bagi masyarakat, serta mendorong penguatan ekonomi riil. Dengan demikian, Maybank Indonesia dapat memanfaatkan keahlian dan kapabilitas Grup untuk pertumbuhan yang terarah serta sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan di home market kami,” ujarnya.
Kredit dan Simpanan Nasabah
Kredit nonritel tumbuh 5,2% Y-o-Y, didukung oleh pertumbuhan kredit komersial (Business Banking) sebesar 11,6%. Kredit Usaha Kecil dan Menengah (SME+) meningkat 6,6%, sementara kredit Retail SME (RSME) menurun 1,3%.
Kredit ritel tumbuh 5,2% Y-o-Y, ditopang oleh kredit otomotif yang meningkat 8,6% serta pembiayaan ritel konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 5,4%. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) relatif stabil dengan pertumbuhan 0,2%.
Secara keseluruhan, kredit ritel dan nonritel yang dikelola melalui Community Financial Services (CFS) tumbuh 5,2% Y-o-Y menjadi Rp87,17 triliun.
Pada Desember 2025, total kredit yang disalurkan Bank tercatat sebesar Rp123,64 triliun, turun 3,1% Y-o-Y seiring dengan rebalancing portofolio kredit korporasi Global Banking (GB) yang mencatatkan penurunan 18,4% Y-o-Y. Meski demikian, kredit segmen Large Local Corporates (GB-LLC) tumbuh 13,1% secara kuartalan dan akan menjadi fokus pertumbuhan Bank ke depan.
Total aset Bank tercatat sebesar Rp193,72 triliun, turun 1,8% Y-o-Y seiring dengan penurunan saldo kredit.
Pembiayaan berkelanjutan KKUB mencapai Rp21,23 triliun, didukung pembiayaan transportasi ramah lingkungan yang meningkat 131% Y-o-Y dan pembiayaan energi terbarukan yang tumbuh 499% sepanjang 2025.
Giro dan tabungan (CASA) tumbuh 6,3% Y-o-Y, didorong oleh pertumbuhan giro sebesar 12,0% seiring meningkatnya transaksi melalui platform M2E (nasabah korporasi) sebesar 11,7% menjadi lebih dari 5 juta transaksi. Tabungan turun 3,3%, namun transaksi melalui platform M2U (nasabah ritel) meningkat 23,4% menjadi lebih dari 30 juta transaksi.
Deposito berjangka turun 12,1% sejalan dengan fokus Bank dalam mengoptimalkan struktur pendanaan yang lebih efisien. Rasio CASA meningkat menjadi 57,6% pada Desember 2025 dari 52,9% pada Desember 2024. Total simpanan nasabah tercatat sebesar Rp116,19 triliun, turun 2,4% Y-o-Y.
Kualitas aset terus membaik dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,2% (gross) dan 1,3% (net) pada 2025, membaik dibandingkan 2,7% (gross) dan 1,4% (net) pada 2024. Saldo NPL menurun 19,5%.
Dari sisi Permodalan Bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 27,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 26,1%.
Likuiditas Bank berada pada level sehat dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 90,3%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only tercatat sebesar 175,8%, jauh di atas ketentuan minimum 100%, sementara Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only berada di level 112,4%.