Analis: Harga Emas Masih Dijalur Positif
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Harga emas (XAU/USD) kembali menunjukkan performa impresif di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi Amerika Serikat. Momentum ini berlanjut ke awal pekan, di mana emas sempat menarik pembeli baru di kisaran US$3.905 pada sesi Asia Senin pagi (06/10/2025).
Pada perdagangan Jumat lalu (03/10/2025), logam mulia ini menguat hampir 0,50%, ditutup di kisaran US$3.875 per troy ons setelah sempat terkoreksi hingga US$3.838. Penguatan berlanjut pada awal pekan ini, di mana emas sempat menyentuh US$3.905 di sesi Asia, menegaskan kuatnya minat beli investor.
Menurut Analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, tren teknikal emas masih berada dalam jalur positif.
“Candlestick dan indikator Moving Average menegaskan bahwa momentum bullish masih terjaga. Jika sentimen pasar konsisten, emas berpotensi menguji level US$3.950 dalam waktu dekat,” kata Andy dalam keterangannya.
Faktor utama yang menopang reli emas kali ini adalah situasi politik di Washington. Shutdown pemerintah federal AS terus berlanjut setelah Senat gagal mencapai kesepakatan soal anggaran. Kondisi ini menunda rilis data penting, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang biasanya menjadi acuan penting The Fed dan pasar keuangan. Ketidakpastian tersebut memperkuat arus masuk ke aset safe-haven, termasuk emas.
Selain faktor politik, spekulasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga mendukung reli emas. Pasar saat ini menilai hampir pasti adanya pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan Oktober. Lebih jauh, kontrak berjangka bahkan memperkirakan total penurunan hingga 47 basis poin sampai akhir tahun. Prospek suku bunga yang lebih rendah secara langsung memperlemah Dolar AS, sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Meski tren jangka menengah cenderung positif, pasar tidak menutup kemungkinan adanya profit taking setelah emas mencatatkan reli delapan pekan berturut-turut. Namun, para analis menilai setiap koreksi justru berpeluang dimanfaatkan investor untuk masuk kembali, mengingat ketidakpastian fiskal dan geopolitik global belum mereda.
Dari sisi data ekonomi, pasar kini menunggu rilis PMI Jasa ISM sebagai pengganti data ketenagakerjaan yang tertunda. Indeks PMI terakhir tercatat 50,0, lebih rendah dari perkiraan 51,7 dan melemah dari bulan sebelumnya di 52,0. Angka ini menambah bukti bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum, yang dapat memperkuat alasan The Fed untuk memangkas suku bunga.