Soal BBM Campuran Etanol, Pertamina Patra Niaga Sebut Praktik Terbaik di Global
PT Pertamina Patra Niaga memastikan penyaluran Pertalite terus dilakukan sesuai penugasan yang diberikan Pemerintah. Tidak ada rencana menghentikan distribusi Pertalite pada 1 September 2024.
PT Pertamina Patra Niaga menilai penggunaan etanol pada bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin sebagai praktik terbaik, dan telah lama digunakan di tingkat global. Inisiatif itu disebut sejalan dengan misi internasional untuk mengurangi emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, dan memperkuat transisi energi yang berkelanjutan.
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, etanol diproduksi dari sumber nabati seperti tebu dan jagung. Dengan begitu, penggunaan etanol lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil murni.
“Implementasi ini terbukti berhasil mengurangi emisi gas buang, menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil murni, serta mendukung peningkatan perekonomian masyarakat lokal melalui pemanfaatan bahan baku pertanian,” kata Roberth dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.
Dengan mencampur etanol pada BBM, kata Roberth, emisi gas buang kendaraan bisa ditekan, dan kualitas udara menjadi lebih bersih. Penggunaan etanol di sektor energi disebut telah menjadi standar di berbagai negara.
Sebagai contoh, kata Roberth, Amerika Serikat (AS) mencampur etanol pada BBM, dengan kadar umum etanol 10% (E10) hingga E85 untuk kendaraan fleksibel. Campuran itu tertuang dalam program renewable fuel standard (RFS) yang dijalankan pemerintah AS.
Kemudian di Brasil, lanjut Roberth, negara itu pun menjadi pelopor etanol berbasis tebu dengan campuran E27. Brasil menjadi negara dengan penggunaan kendaraan berbahan bakar etanol terbesar di dunia.
Kemudian di Eropa, kata Roberth, campuran etanol pun menjadi bagian dari standar energi dengan E10. Campuran etanol digunakan di negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris.