Kemenperin Nilai Penggunaan TKDN Tingkatkan PMI Manufaktur Indonesia
Gedung Kementerian Perindustrian/makobar.com
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) menjadi salah satu faktor yang mampu meningkatkan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia. Karena itu, penggunaan TKDN perlu diperkuat untuk semua belanja pemerintah mulai dari daerah, pusat hingga BUMN.
“TKDN itu harus diperkuat untuk semua belanja pemerintah daerah, pemerintah pusat, BUMN itu harus belanja produk dalam negeri,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Taufiek Bawazier di pabrik SPV Lenzing, Purwakarta, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Taufik mengatakan, selain belanja pemerintah, pihak perusahaan swasta pun dinilai perlu menggunakan bahan baku dan produk dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga demand agar PMI manufaktur Indonesia bisa semakin baik lagi.
“SPV (PT South Pacific Viscose) kalau ada produknya dipakai dalam negeri, pakai untuk pembelanjaan. Karena saya yakin pembelanjaan pasti besar di atas 50%,” ujar Taufiek.
Selanjutnya, kata Taufiek, pemerintah berupayat lewat penguatan investasi yang diarahkan ke sektor-sektor yang dinilai masih kurang. Dengan melakukan hal itu, diharapkan investasi masuk ke Indonesia dan tersebar secara merata di seluruh sektor industri yang ada.
“Dengan begitu, komplit di dalam konteks pohon industrinya. Jadi menjaganya itu melalui demand juga, karena kita penduduk 270 juta, kalau demand-nya semua teman-teman bukan hanya cinta tapi beli produk dalam negeri,” tutur Taufiek.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, hingga Agustus 2023, PMI manufaktur Indonesia terus mengalami penguatan. Tercatat PMI manufaktur Indonesia berada di zona ekspansif di level 53,9, lebih baik dibandingkan Negara Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
Pencapaian tersebut, kata Sri Mulyani, meningkat dibandingkan dengan periode Juni 2023 yang berada pada level 52,5. “Indonesia yang masih bertahan PMI ekspansinya juga menunjukkan suatu aktivitas yang menguat pada level 53,9,” kata Sri Mulyani.