Ketua Dewan Pers: Pers Harus Memimpin Gagasan, Bukan Sekadar Mengikuti Selera
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat saat menyampaikan pidato kunci dalam dalam acara “THE FACE OF INDONESIA: Making Impactful Communication Strategy” yang diselenggarakan Theiconomics.com di Auditorium Abdulrahman Saleh LPP RRI, Rabu (18/12)/Foto: Theiconomics.com
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam membentuk arah dan masa depan bangsa melalui penyebaran gagasan-gagasan besar yang mencerahkan publik. Menurutnya, bangsa yang besar tidak digerakkan oleh figur semata, melainkan oleh ide-ide visioner yang terus dirawat dan dikomunikasikan secara konsisten.
“Bangsa yang besar itu bangsa yang dipimpin oleh gagasan-gagasan besar yang punya akar tunggang sejarah ke dalam dan juga visi ke depan, bukan memuja tokoh, tapi ide; bukan membela tokoh, tapi membela idenya,” ujarnya saaat menyampaikan pidato kunci dalam acara “THE FACE OF INDONESIA: Making Impactful Communication Strategy”.
Acara tersebut diselenggarakan Theiconomics.com di Auditorium Abdulrahman Saleh LPP RRI, Rabu (17/12).
Ia menjelaskan, terdapat tiga kekuatan utama yang menggerakkan dunia, yakni energi, uang, dan informasi. Di antara ketiganya, informasi memiliki daya pengaruh yang luar biasa karena mampu membentuk persepsi, memengaruhi keputusan ekonomi dan politik, bahkan menggerakkan atau melemahkan mental suatu bangsa.
“Informasi layaknya udara yang kita hirup setiap saat. Kalau udara itu penuh polusi, maka kemudian kita juga sesak,” katanya.
Komaruddin menilai, di era digital saat ini arus informasi semakin masif dan tidak selalu sehat. Karena itu, pers dituntut tidak hanya mengejar perhatian publik, tetapi juga bertanggung jawab menjaga kualitas informasi agar tidak menimbulkan energi negatif di tengah masyarakat.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian media yang lebih memilih mengikuti selera pasar demi oplah dan rating, dibandingkan memimpin pembaca menuju pemahaman yang lebih mendalam dan reflektif. Padahal, menurutnya, media yang edukatif dan visioner justru berperan penting dalam membangun kecerdasan kolektif bangsa.
“Saya ingat dulu waktu mahasiswa salah satu media yang menjadi trendsetter, mendidik pembaca, itu adalah majalah Prisma. Prisma itu membuat pembacanya pintar dan itu menjadi trendsetter,” katanya.
Komaruddin menilai bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami kekosongan gagasan besar yang mampu menjadi penuntun arah bersama. Ia mengaku resah karena wacana publik yang beredar setiap hari cenderung dipenuhi nada pesimisme, mulai dari isu korupsi yang tak kunjung tuntas, keluh kesah mahasiswa tentang masa depan, hingga tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi.
Menurut Komaruddin, dominasi isu-isu tersebut menghadirkan energi negatif bagi masyarakat. Ia mempertanyakan ada tidaknya satu tema wacana yang menjadi magnetik dan menjadi guiding ideas yang mampu menyatukan, menggerakkan, sekaligus menginspirasi bangsa untuk melangkah maju.
Ia kemudian membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, ketika para pemimpin dan pembuat kebijakan mampu menghadirkan gagasan besar yang menjadi magnet wacana publik. Komaruddin mencontohkan keberhasilan Haryono Suyono dalam mengomunikasikan isu kependudukan. Melalui pendekatan yang melibatkan tokoh agama dan lintas kelompok masyarakat, gagasan pengendalian jumlah penduduk berhasil ditanamkan hingga menjadi kesadaran kolektif, sekaligus mendominasi pemberitaan dan diskursus nasional.
Hal serupa, lanjutnya, juga dilakukan Emil Salim yang berhasil menjadikan isu lingkungan hidup sebagai topik penting di ruang publik, jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perhatian global. Melalui komunikasi yang konsisten, berbagai diskusi, riset, hingga publikasi ilmiah lahir dan membentuk kesadaran baru masyarakat.
Komaruddin juga menyinggung era B.J. Habibie, ketika wacana teknologi dan industrialisasi strategis mampu memotivasi generasi muda untuk berpikir analitis dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Pada masa-masa tersebut, kata dia, terdapat kata kunci dan gagasan besar yang memberi nilai tambah serta menumbuhkan optimisme kolektif.
Ia menegaskan, kehadiran ide-ide besar yang dikelola dan dikomunikasikan dengan baik sangat penting, karena wacana publik bukan sekadar percakapan, melainkan energi yang menentukan arah dan masa depan bangsa.
“Kalau tidak ada suatu the big guiding idea yang visioner, kita ini jadi bangsa kerumunan. Kalau kita jadi bangsa kerumunan, tidak akan maju,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Komaruddin menekankan bahwa pers, memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan wacana yang tidak hanya informatif, tetapi juga mencerahkan, menyatukan, dan memberi arah bagi perjalanan bangsa.
“Setiap pekerjaan, kita ada pertanyaan, saya ini bekerja untuk apa dan siapa sih? Itu bagi saya pertanyaannya mendasar. Saya ini bekerja, memihak untuk apa dan siapa? Kalau bekerja tidak ada pemihakan – untuk apa, untuk siapa – jadi seperti sekrup, lama-lama aus,” ujarnya.
Dalam konteks kebangsaan, Komaruddin mengingatkan bahwa bangsa ini “belum jadi”, tetapi “Indonesia always in the process of becoming”. Sehingga ketika menulis atau memublikasikan apa pun, di sanalah seharusnya ada visi tentang Indonesia, tentang untuk apa dan untuk siapa kita berkumpul dan bekerja.