Strategi Cerdas Transformasi Digital Perusahaan Perbankan di Era AI
(Dari kiri ke kanan) Department Head of Middleware Cloud Platform Multipolar Technology Elen, Director Application Services Business Multipolar Technology Jip Ivan Sutanto, dan Section Head Cloud Integration Platform Services and Enterpise Business Multipolar Technology Andri Darmansyah sedang berbincang di sela-sela Infobank Outlook 2026 bertema “Connected Banking Architecture: Real-Time, Resilient, Revenue-Ready” di Pullman Jakarta Thamrin.
Dunia perbankan kini bergerak di tengah pusaran perubahan yang tak lagi sekadar VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), melainkan sudah memasuki fase TUNA (Turbulent, Uncertain, Novel, Ambiguous). Di fase ini, turbulensi dan ketidakpastian muncul bersamaan dengan tantangan-tantangan baru yang menuntut kecepatan beradaptasi.
Farida Peranginangin, Head of Payment System Implementation Department Bank Indonesia, menegaskan bahwa perbankan kini harus mampu beradaptasi dengan tuntutan pasar yang menginginkan real-time payment, open banking (kolaborasi dengan fintech), interkoneksi lintas sistem dan lintas batas negara (regional linkage), tokenisasi aset, serta pemanfaatan data dan AI secara optimal.
“Ini selaras dengan asumsi bahwa dominasi generasi Y, Z, dan Alpha yang mencapai 60% pada 2030 akan menjadi pendorong utama permintaan layanan digital yang cepat dan terintegrasi,” ujarnya dalam Infobank Outlook 2026 bertema “Connected Banking Architecture: Real-Time, Resilient, Revenue-Ready” di Pullman Thamrin, Jakarta, Selasa (14/10).
Pertumbuhan layanan digital terlihat dari lonjakan signifikan transaksi ekonomi keuangan digital (EKD) nasional. Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah transaksi EKD meningkat dari 8 miliar transaksi pada 2020 menjadi 37 miliar pada 2024, dan diperkirakan melonjak hingga 147,3 miliar transaksi pada 2030.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, adopsi teknologi menjadi faktor penentu. Salah satu solusi yang mampu menghubungkan berbagai aplikasi dan sistem serta mengatasi hambatan data silo adalah IBM Cloud Pak for Integration (CP4I) — solusi integrasi di lingkungan hybrid dan multicloud bertenaga AI yang memudahkan perusahaan mengelola API, data, dan layanan secara terpadu.
Jip Ivan Sutanto, Director Application Services Business PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), menjelaskan bahwa dengan IBM CP4I, perusahaan perbankan dapat mengelola seluruh workload melalui satu control plane. “Solusi ini akan semakin tangguh jika dipasangkan dengan IBM Event Automation,” ujarnya.
IBM Event Automation merupakan solusi berbasis peristiwa (event-driven) yang didukung AI untuk mendeteksi situasi secara real-time — baik terkait layanan bisnis maupun potensi ancaman — sehingga memungkinkan otomatisasi pengambilan keputusan dan peningkatan potensi pendapatan.
Solusi ini juga mengintegrasikan teknologi open source seperti Apache Kafka dan Apache Flink untuk memproses data dan membangun arsitektur berbasis peristiwa yang responsif. Berjalan di atas infrastruktur OpenShift, solusi ini menawarkan keamanan dan skalabilitas yang tinggi.
“Kolaborasi antara IBM CP4I dan IBM Event Automation membuat perbankan serta industri lainnya tidak lagi bergantung pada proses manual, tetapi beroperasi dalam ekosistem yang terintegrasi, responsif, dan terautomatisasi, sehingga lebih cerdas. Inilah jawaban atas tuntutan industri perbankan masa kini,” tutur Jip Ivan.