IHSG Terkoreksi Usai MSCI Coret Belasan Emiten dari Indeks Global, Simak Saran Analis

Pelaku pasar seharusnya tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi panic selling.
0
60

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan setelah pengumuman MSCI yang mencoret sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari indeks global. Meski demikian, Indonesia tetap berada dalam kelompok MSCI Emerging Markets dan tidak turun kelas ke MSCI Frontier Markets Index.

IHSG tercatat melemah sekitar 1,61% ke level 6.748,47 pada pukul 11.13 WIB. Sejak awal perdagangan, indeks sudah bergerak di zona merah.

Sebelumnya, MSCI Inc. tidak mengubah status pasar saham Indonesia dalam tinjauan indeks global Mei 2026. Indonesia tetap berada dalam kelompok MSCI Emerging Markets dan tidak mengalami downgrade ke MSCI Frontier Markets Index, sebagaimana sempat dikhawatirkan pasar dan mengguncang perdagangan saham domestik.

Namun, dalam review kali ini, Indonesia mengalami pengurangan signifikan jumlah saham, baik di MSCI Global Standard Indexes maupun MSCI Global Small Cap Indexes.

Hans Kwee, Co-Founder PasarDana dan praktisi pasar modal, mengatakan pelaku pasar seharusnya tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi panic selling.

“Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut,” kata Hans kepada wartawan, Rabu (13/5).

Baca Juga :   Sesuai UU Baru, Tugas Kementerian BUMN sebagai Regulator dan Pengawasan

Menurut Hans, banyak pelaku pasar dan fund manager telah mengantisipasi penghapusan saham-saham tersebut oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir. Fund manager pasif, lanjutnya, sebagian akan memanfaatkan periode terakhir pada 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolio mengikuti pengumuman MSCI.

“Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor Small Cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif,” ujarnya.

Dalam pengumumannya, MSCI menyampaikan bahwa dalam MSCI Global Standard Indexes tidak ada satu pun emiten Indonesia yang masuk sebagai anggota baru. Sebaliknya, enam saham dikeluarkan dari MSCI Indonesia Index.

Enam saham yang dicoret dari MSCI Indonesia Index tersebut adalah Amman Mineral Internasional, Barito Renewables Energy, Chandra Asri Pacific, Dian Swastatika Sentosa, Petrindo Jaya Kreasi, dan Sumber Alfaria Trijaya.

Dalam review yang sama, MSCI hanya menambahkan satu saham Indonesia ke MSCI Global Small Cap Indexes, yakni Sumber Alfaria Trijaya.

Baca Juga :   Berdasarkan MSCI Accessibility Review, Indonesia Dinilai Tidak Mungkin Turun ke Frontier Market

Namun, pada saat bersamaan, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Indonesia Small Cap Index. Emiten yang dikeluarkan meliputi Aneka Tambang, Astra Agro Lestari, Bank Aladin Syariah, Bumi Serpong Damai, Dharma Satya Nusantara, Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Midi Utama Indonesia, Mitra Keluarga Karyasehat, MNC Digital Entertainment, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Pacific Strategic Financial, Sawit Sumbermas Sarana, dan Triputra Agro Persada.

Lebih lanjut, Hans mengatakan transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India. Karena itu, ia menilai peran OJK dan SRO, yakni BEI, KPEI, dan KSEI, sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil.

“Upaya SRO dalam mendorong keterbukaan informasi yang lebih real-time serta langkah tegas OJK dalam mereformasi perlindungan investor minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI,” ujarnya.

Ia menambahkan, India berhasil pulih dan menjadi primadona pasar berkembang dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi yang masif.

Baca Juga :   RUPSLB Krakatau Steel Tunjuk Muhammad Akbar Jadi Dirut

“Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum “pembersihan” untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel. Bagi investor Indonesia, inilah saatnya melakukan evaluasi portofolio secara objektif, karena pasar yang mampu berbenah pasca-koreksi teknikal sering kali menghasilkan pertumbuhan yang jauh lebih tangguh dalam jangka panjang. Pengumuan MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti Fundamental perusahaan,” ujar Hans.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics