Kwik Kian Gie Tutup Usia, Mengenang Perannya Dalam Dinamika Ekonomi Indonesia

0
92

Kwik Kian Gie tutup usia. Kepergian Kwik tentu duka bagi Indonesia, karena salah satu tokoh bangsa dan ekonom Indonesia ini memiliki peran banyak dalam dinamika perekonomian Indonesia.

“Kita kehilangan tokoh dan ekonom hebat, yang peranannya besar untuk koreksi dan check and balances bagi kebijakan ekonomi,” kata Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini dalam keterangannya pada Selasa (29/07/2025).

Dalam kacamata Didik, Kwik Kian Gie merupakan sosok vokal dan berpengaruh sebagai ekonom intelektual pada era 1980-an.

“Pada tahun 1980-an masih sedikit kelompok terpelajar tapi Kwik sudah menyelesaikan pendidikannya di universitas ternama di dunia, yaitu Nederlandse Economische Hogeschool di Rotterdam (sekarang Erasmus University). Karena itu, pemikirannya dan terutama kritik tentang di media massa sangat didengar dan berpengaruh,” kata Didik.

Didik bercerita, memasuki dekade 1990-an, ketika para intelektual banyak merapat ke pemerintah Orde Baru, Kwik justru memilih jalan berbeda. Menurut Didik, Kwik tetap berada di luar menjalankan peran check and balances secara tidak formal untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan ekonomi.

Baca Juga :   Semen Baturaja Tetap Tumbuh di Tengah Kelesuan Pasar Semen

Kwik termasuk dalam jajaran ekonom kritis yang tergabung dalam “Kelompok Ekonomi 30”, bersama nama-nama seperti Sjahrir, Rizal Ramli, Dorodjatun, Hendra Esmara, Nuriman Hasibuan, Rijanto, dan Didik Rachbini. Kelompok ini aktif memberikan pandangan dan kritik di ruang publik, terutama melalui media massa.

“Sebelum reformasi pertengahan tahun 1990-an sudah banyak ekonom memberikan saran-saran dengan bukti akademik (evidence based) dan teoritis. Tetapi ekonomi Orde Baru sangat dominan dan saran-saran kebijakan relatif tidak mempan,” kata Didik.

Kwik juga tercatat sempat menjabat di pemerintahan pasca reformasi. “Ia dikenal sebagai figur intelektual yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti harus berseberangan dengan kekuasaan. Sempat menjabat pada masa reformasi sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1999–2000) dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (2001) pada era Presiden Megawati Soekarnoputri,” cerita Didik.

Didik mengatakan warisan pemikiran Kwik tetap relevan hingga kini, khususnya tentang pentingnya kedaulatan ekonomi nasional.

Didik juga bercerita dalam pandangan Kwik, BUMN adalah komponen strategis yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga BUMN dan aset strategis bangsa.

Baca Juga :   KAI Umumkan Jumlah Korban Kecelakaan KA Turangga vs KA Commuterline Bandung Raya, Inilah Rinciannya

“Apa relevansinya dengan kondisi sekarang, Danantara tidak boleh gagal,” kata Didik.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics