Indonet Operasikan Koridor Fiber Optik Bawah Tanah Jalur Timur
PT Indointernet Tbk (Indonet) telah mengoperasikan koridor fiber optik bawah tanah jalur timur (east route). East route merupakan pengembangan koridor timur Indonet yang terdiri atas 3 jalur, dan menghubungkan pusat data center Indonet di Jakarta dengan kawasan industri di Bekasi dan Karawang.
Presiden Direktur Indonet Donauly Situmorang mengatakan, pihaknya telah terlebih dahulu mengoperasikan dua jalur sejak tahun 2025. Adapun jalur ketiga tersebut memiliki panjang 80 kilometer (km), dengan kapasitas 2 x 576 core fiber.
Dengan telah beroperasinya jalur ketiga, kata Dona, total jaringan fiber optik Indonet mencapai 850 km. Ada kenaikan 141% dibandingkan 2024.
Dengan pengembangan kapasitas itu, lanjut Dona, Indonet menjadi salah satu penyedia infrastruktur digital pertama di Indonesia yang membangun koridor fiber optik di bawah tanah yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan industri, dan data center Bekasi serta Karawang.
“Indonesia sedang memasuki fase baru pembangunan infrastruktur digital. Investasi pada data center, cloud, dan AI akan terus meningkat, namun nilai dari investasi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh konektivitas yang sama kuatnya,” kata Dona dalam acara media gathering di Jakarta, Rabu (8/7).
Bersamaan dengan hal itu, kata Dona, Indonet juga meningkatkan kapasitas backbone network menjadi 100 Gbps. Peningkatan dilakukan untuk mendukung kebutuhan konektivitas di kawasan industri, dan sejalan dengan ekspansi jaringan perusahaan ke berbagai pusat pertumbuhan industri.
“Karena itu, kami terus berinvestasi membangun jaringan fiber optik bawah tanah dan infrastruktur interkoneksi data center yang andal, sehingga pelanggan dapat bertumbuh dengan kepastian tanpa dibatasi oleh keterbatasan infrastruktur,” tambah Dona.
Sementara itu, Direktur Operasional Indonet Agus Ariyanto menambahkan, investasi fiber optik memiliki keunggulan dibandingkan jaringan fiber udara. Fiber optik bawah tanah disebut memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko operasional, sehingga lebih stabil untuk kebutuhan bisnis mission-critical, seperti AI workloads, dan pemulihan pasca-bencana alam.
“Seluruh jaringan dibangun di bawah tanah dengan kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko eksternal, seperti cuaca ekstrem maupun aktivitas konstruksi,” kata Agus.
Masih soal infrastruktur, Direktur Sales & Marketing Indonet Yudie Haryanto mengatakan, penguatan jaringan mendukung pengembangan ekosistem data center di Indonesia. Termasuk untuk memasok kebutuhan CGK Campus yang berkapasitas 500 MW, yang sedang dibangun Digital Edge Indonesia.
Bersama Digital Edge Indonesia, kata Yudie, pihaknya berupaya menghadirkan ekosistem infrastruktur digital yang terintegrasi, dan mendukung percepatan pertumbuhan AI, komputasi awan, dan ekonomi digital di Indonesia.
“Melalui pengembangan jaringan fiber optik bawah tanah dan peningkatan kapasitas backbone network, Indonet hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan infrastruktur konektivitas yang andal, scalable, dan siap mendukung pertumbuhan bisnis pelanggan saat ini,” kata Yudie.