Ekonomi Indonesia Triwulan III 2025 Tumbuh 5,04 Persen, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Utama

0
149

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2025 mencapai 5,04 persen secara tahunan (Year on Year/YoY), lebih rendah dari pertumbuhan kuartal II yang lalu di level 5,12 persen YoY, namun lebih tinggi dari kuartal III 2024 yang sebesar 4,95 persen.

“Dari sisi domestik, kinerja perekonomian pada triwulan III 2025 ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga,” kata Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS dalam konferensi pers, Rabu (5/11).

Edy menjelaskan konsumsi per kapita pada jasa makanan dan minuman, akomodasi, serta barang dan jasa lainnya, masing-masing tumbuh sebesar 5,76 persen dan 7,49 persen secara year-on-year. Transaksi online melalui e-retail dan marketplace juga meningkat 6,19 persen, sementara nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit tumbuh signifikan sebesar 10,30 persen.

Aktivitas produksi domestik tetap terjaga, terlihat dari PMI Bank Indonesia yang berada di zona ekspansif pada level 51,66. Survei triwulanan BPS juga menunjukkan peningkatan produksi di sejumlah industri pengolahan non-migas, seperti industri logam dasar. Selain itu, realisasi investasi baik dalam negeri maupun asing (PMA dan PMDN) tumbuh 13,89 persen secara year-on-year, menandakan kepercayaan investor yang tetap tinggi.

Baca Juga :   Pertumbuhan Kuartal II-2023 Sebesar 5,17%, Menko Airlangga Tetap Targetkan Pertumbuhan 5,3% di 2023

Mobilitas masyarakat juga meningkat, tercermin dari kenaikan perjalanan wisatawan Nusantara sebesar 21,84 persen. Di sisi kebijakan, pemerintah terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pengendalian inflasi, penetapan BI Rate pada level 4,75 persen pada September 2025, serta pelaksanaan program fiskal yang mendorong efektivitas belanja, termasuk program makan bergizi gratis.

Edy menjelaskan, dari sisi lapangan usaha, sebagian besar sektor tumbuh positif year-on-year. Kontributor utama terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, dengan total kontribusi sekitar 65,02 persen. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada jasa pendidikan (10,59 persen), jasa perusahaan (9,94 persen), dan jasa lainnya (9,92 persen). Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 1,13 persen, diikuti perdagangan (0,72 persen), informasi dan komunikasi (0,63 persen), serta pertanian (0,61 persen).

Industri pengolahan tumbuh didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri, terutama industri makanan dan minuman (+6,49 persen), industri logam dasar (+18,62 persen), dan industri kimia, farmasi, serta obat tradisional (+11,65 persen). Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, tumbuh seiring meningkatnya perdagangan domestik dan online. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh sejalan peningkatan aktivitas telekomunikasi dan transaksi elektronik, sedangkan pertanian tumbuh karena meningkatnya permintaan domestik, termasuk tanaman pangan (+9,94 persen) dan peternakan (+6,51 persen) untuk mendukung program makan bergizi gratis.

Baca Juga :   Masih Tinggi, Tetapi Trennya Melamah, Inflasi Januari 2023 Sebesar 5,28% (yoy)

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif. Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar terhadap PDB triwulan III tahun 2025, yakni 53,14 persen, tumbuh 4,89 persen. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 29,09 persen, sehingga kedua komponen menyumbang 82,23 persen PDB. 

Edy menambahkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada ekspor, yang naik 9,91 persen, terutama didorong oleh kenaikan nilai dan volume ekspor barang non-migas serta ekspor jasa.

Sepanjang triwulan III tahun 2025, ekspor barang mencapai 74,39 miliar USD, naik 8,96 persen secara year-on-year, sementara impor turun 2,09 persen menjadi 60,39 miliar USD. Surplus neraca perdagangan tercatat berlanjut selama 65 bulan berturut-turut. Komoditas utama ekspor non-migas, seperti lemak dan minyak nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, perhiasan, serta kendaraan dan bagiannya, mencatat pertumbuhan positif dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekonomi sejumlah negara mitra dagang Indonesia masih tumbuh positif, meski ada yang melambat. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Singapura pada triwulan III 2025 tercatat melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, yaitu triwulan II tahun 2025. Sebaliknya, ekonomi Vietnam dan Korea Selatan diperkirakan mengalami penguatan dibandingkan dengan triwulan II  2025 maupun triwulan III 2024.

Leave a reply

Iconomics