Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tetap Tumbuh Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap positif meskipun berbagai tantangan global masih membayangi.
0
13

Perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh resilien pada 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar keuangan. Stabilitas makroekonomi yang terjaga, investasi yang terus mengalir, serta berkembangnya sejumlah sektor strategis dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026 Danamon, yang memaparkan prospek ekonomi Indonesia sekaligus sosialisasi kebijakan Bank Indonesia dalam mendukung pendalaman pasar keuangan dan pengelolaan transaksi valuta asing.

Perekonomian global diperkirakan masih menghadapi sejumlah tantangan pada 2026, antara lain tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada akhir 2026, sebelum kembali membaik pada 2027.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), Irman Faiz, mengatakan kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memicu tekanan inflasi dan memperketat kondisi keuangan di berbagai negara. Sementara itu, harga minyak yang sempat meningkat signifikan diperkirakan berangsur turun seiring penyesuaian pasokan global.

Baca Juga :   Sinergi Danamon dengan Bareksa Hadirkan Direct Debit Hingga Rp1 Miliar per Hari untuk e-Investasi  

Menurut Irman, di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2% pada 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, serta berbagai kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) juga terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, serta pengembangan pusat data (data center) yang mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

“Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang,” ujar Irman, Senin (7/9/2026).

Meski demikian, Indonesia tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.

Selain itu, volatilitas pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter negara maju berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar rupiah.

Baca Juga :   Ekonomi Indonesia Tumbuh 3,69% Sepanjang Tahun 2021

Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional, Bank Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan yang mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik.

Seiring meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan arus modal internasional, pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan dinilai semakin penting untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, menjelaskan Bank Indonesia telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik. Kebijakan tersebut antara lain pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).

Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, tetapi juga meningkatkan likuiditas pasar valuta asing domestik, memperbaiki transparansi transaksi, serta mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

Baca Juga :   Apa yang Bisa Dimaksimalkan untuk Mencegah Resesi Ekonomi?

“Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global,” ujar Yansen.

Ke depan, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap positif meskipun berbagai tantangan global masih membayangi. Stabilitas makroekonomi, kuatnya investasi, serta upaya pendalaman pasar keuangan diharapkan menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics