Indonesia Eximbank Institute: Nilai Ekspor Minyak Kelapa Diproyeksikan Naik 9% di Tahun 2026

0
43

Kajian sektoral Indonesia Eximbank (IEB) Institute mencatat Indonesia masih menjadi eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia, baik untuk minyak kelapa mentah (HS 1513.11) maupun minyak kelapa dimurnikan (HS 1513.19), dengan pangsa pasar global masing-masing sekitar 22% pada 2025.

Pada Januari-Desember 2025, volume ekspor tercatat turun sekitar 18%. Namun, secara kumulatif nilai ekspor justru meningkat lebih dari 43%. “Peningkatan nilai ekspor ini terutama dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku, dan pasokan domestik, yang turut dipengaruhi oleh El Niño sehingga sebagian pabrik mengurangi kapasitas produksi sementara, sehingga tekanan harga minyak kelapa di pasar ekspor semakin meningkat ,” kata Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani dalam keterangannya.

Rini menjelaskan Indonesia pada tahun 2025 berada di peringkat kedua eksportir minyak kelapa dunia dengan pangsa pasar 22%, di bawah Filipina sebagai eksportir utama minyak kelapa dengan porsi mencapai 49%, meninggalkan negara Belanda di peringkat ketiga dengan porsi 10%.

Indonesia memiliki keunggulan berupa diversifikasi pasar ekspor yang tinggi, dengan lebih dari 90 negara tujuan untuk minyak kelapa. Hal ini membuat ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu atau dua pasar utama, sekaligus meningkatkan daya tawar terhadap negara tujuan. Pasar utama Indonesia mencakup Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat, dengan peluang penetrasi lebih lanjut ke Eropa dan kawasan non-tradisional.

Baca Juga :   Bidik Ekspor, RNI Bangun Pabrik Alkes di Jateng

Permintaan global terhadap minyak kelapa murni untuk sektor pangan, kosmetik, serta kesehatan.

“Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang menaruh perhatian pada produk berbasis keberlanjutan, seperti Uni eropa,” katanya.

IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa akan tumbuh moderat sekitar 9% di 2026, dipengaruhi pemulihan produksi dari kompetitor seperti Filipina, dan penyesuaian harga kelapa berangsur ke level normalnya.

Meski prospek ekspor relatif terjaga, tantangan utama sektor minyak kelapa Indonesia berada di sisi ketahanan pasokan bahan baku. Produksi kelapa nasional menghadapi tekanan dari penuaan pohon, produktivitas pekebun kecil yang masih rendah, dampak cuaca ekstrem, serta meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.

“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional. Pemerintah telah memulai langkah peremajaan kebun dengan realisasi sekitar 44,9 ribu hektar pada 2024, serta menargetkan perluasan program replanting hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kelapa dan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri,” kata Rini.

Baca Juga :   Produsen Peralatan Listrik Minta Pemerintah Lakukan Negosiasi Kebijakan Tarif Trump

“Peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran minyak kelapa sebagai komoditas potensial yang berkelanjutan dan mampu mendorong kinerja ekspor nasional ke depan,” kata Rini.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics