Jika Ingin Capai 8%, Indef Dorong Pemerintah Cari Alternatif Pertumbuhan Ekonomi Baru
Institute For Development of Economics and Finance (Indef) mendorong pemerintah untuk mencari alternatif pertumbuhan ekonomi baru, jika ingin mencapai target pertumbuhan 8%. Masih adanya jarak dari target yang ditentukan perlu disikapi secara bijak, mengingat masih adanya kondisi ketegangan geopolitik, dan dinamika dalam negeri.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan, investasi dan industrialisasi energi terbarukan dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan hasil riset Indef, kata Esther, kawasan energi terbarukan harus sejalan dengan kawasan ekonomi khusus. Tujuannya, agar pasokan dan kebutuhan energi bersih dapat bertemu di dalam kawasan tersebut.
“Di saat yang sama pemerintah juga harus mendorong pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya untuk program prioritas yang sudah ada sekarang, tetapi lebih condong untuk mendorong investasi, dan mendorong ekspor,” kata Esther dalam acara “Sarasehan 100 Ekonom Indonesia” di Jakarta, Kamis (3/9).
Di sisi lain, kata Esther, realisasi investasi energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) di Indonesia masih rendah. Data menujukkan, kata Esther, angka investasi sektor EBTKE masih sebesar 7,2%.
Seharusnya, kata Esther, di tengah kondisi yang ada saat ini pemerintah Indonesia perlu meningkatkan lagi capaian investasi di sektor EBTKE.
“Kita sudah melalui konflik geopolitik, meskipun dampaknya sampai sekarang masih berlangsung. Apalagi kalau kita lihat negara-negara menavigasi dinamika global ini dengan meningkatkan investasi energi bersih. Jadi energi bersih ini sudah menjadi keharusan,” ujarnya.
Masih kata Esther, pihaknya berharap “Sarasehan 100 Ekonom” dapat menjadi ajang untuk mencari titik temu, dan solusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
“Indef berharap ‘Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026’ dapat menjadi ruang untuk mempertemukan dialog, gagasan, dan kritik untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Esther.