Harga Emas Dunia Terdorong Pelemahan Dolar AS dan Ketegangan Geopolitik hingga Ancaman Pemblokiran Selat Hormuz
Ilustrasi emas batangan/Dok. Dupoin Futures Indonesia
Harga emas dunia masih menunjukkan ketahanannya. Harga emas masih bertengger dengan berbagai sentiment global yang menerpanya.
Analisis Pasar dari Dupoin Futures, Andy Nugraha mengatakan pergerakan emas (XAU/USD) saat ini masih berada dalam tren bullish pada timeframe H1. Kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average mengindikasikan bahwa momentum penguatan emas masih cukup solid dalam jangka pendek.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan. XAU/USD tercatat diperdagangkan di sekitar level US$5.187 per troy ounce, meningkat lebih dari 0,50% dibandingkan sesi sebelumnya. Penguatan ini dipicu oleh pelemahan Dolar AS yang terjadi setelah harga minyak dunia mengalami penurunan tipis.
Pergerakan harga minyak diketahui memiliki korelasi tertentu dengan nilai tukar dolar AS. Ketika harga minyak melemah, tekanan terhadap dolar dapat meningkat sehingga memberikan dorongan tambahan bagi aset safe haven seperti emas.
Selain faktor mata uang dan komoditas energi, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan pengaruh terhadap dinamika pergerakan pasar emas. Data penjualan rumah yang sudah ada (existing home sales) di AS menunjukkan pemulihan pada bulan Februari setelah sebelumnya mengalami kontraksi cukup dalam pada Januari. Penjualan rumah tercatat meningkat sebesar 1,7%, membaik dari penurunan sebelumnya yang mencapai -5,9%. Perbaikan ini mengindikasikan bahwa sektor properti mulai menunjukkan stabilisasi meskipun kondisi ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian.
Indikator ketenagakerjaan juga menunjukkan perkembangan positif. Data rata-rata perubahan tenaga kerja ADP selama empat minggu terakhir tercatat meningkat menjadi 15,5 ribu, lebih tinggi dibandingkan angka sebelumnya sebesar 12,8 ribu. Peningkatan ini memberikan gambaran bahwa pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan ketahanan, meskipun tekanan ekonomi global tetap menjadi perhatian bagi para pelaku pasar.
Memasuki perdagangan sesi Asia pada hari Rabu, harga emas terlihat relatif stabil di sekitar level US$5.190. Stabilitas ini terjadi setelah pasar sempat mengalami volatilitas yang dipicu oleh perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas global, termasuk emas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa operasi militer AS di Iran kemungkinan akan segera berakhir, meskipun belum ada kepastian mengenai waktu penghentian operasi tersebut. Pernyataan ini sempat memicu penurunan harga minyak karena pasar menilai potensi de-eskalasi konflik. Penurunan harga minyak tersebut juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, yang pada akhirnya memberikan dukungan bagi harga emas.
Disisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jika serangan dari AS dan Israel terus berlanjut, Iran dapat mengambil langkah drastis dengan memblokir ekspor minyak dari kawasan tersebut. Ancaman ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan peringatan keras terhadap kemungkinan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Jika jalur vital tersebut terganggu, ketegangan geopolitik berpotensi meningkat dan memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Selain isu ketegangan geopolitik, rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan pada hari Rabu juga menjadi sorotan. Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Februari diperkirakan naik sebesar 2,4% secara tahunan, sementara CPI inti diproyeksikan meningkat hingga 2,5%. Jika angka inflasi tersebut dirilis lebih tinggi dari perkiraan pasar, hal ini berpotensi memperkuat Dolar AS. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan bagi harga komoditas yang dihargakan dalam mata uang tersebut, termasuk emas.
Dari sisi teknikal, analisis Dupoin Futures menunjukkan bahwa struktur tren emas masih didominasi oleh sentimen positif.
Dengan kombinasi sentimen teknikal yang masih bullish, pelemahan dolar AS, serta faktor geopolitik global yang belum sepenuhnya mereda, harga emas diperkirakan masih memiliki peluang untuk bergerak menguat dalam jangka pendek.