Anggota Fraksi PKS Ini Sebut Pemerintah Jokowi Cetak Impor Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

0
18
Reporter: Wisnu Yusep

Harga beras yang meningkat belakangan ini dinilai memicu pemerintah untuk menetapkan kebijakan impor. Langkah pemerintah itu pun mendapat perhatian dari anggota DPR.

Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKS Slamet, misalnya, mengatakan, rencana dan kebijakan impor beras dalam 2 tahun terakhir memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah. Seperti diketahui pada 2023, pemerintah telah mengimpor beras sebanyak 3 juta ton dan rencananya pada 2024 sebanyak 3,6 juta ton.

“Artinya, dalam 2 tahun ini pemerintah akan memecahkan impor tertinggi sepanjang sejarah,” kata Slamet di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/5).

Kebijakan impor beras yang fantastis ini, kata Slamet, karena pemerintah tidak mampu membenahi tata kelola pangan di Indonesia. “Ini merupakan dampak dari buruknya tata kelola pangan selama 5 tahun ini. Tapi, alih-alih merekonstruksi tata pangan, pemerintah malah terus membuat kebijakan yang jauh dari nilai-nilai kedaulatan dan kemandirian pangan,” kata Slamet.

Di sektor pertanian ini, lanjut Slamet, pemerintah cenderung tidak memiliki arah yang jelas sehingga pemerintahan Jokowi melenceng dari program yang diwacanakan itu. “Dalam konteks pertanian, (kebijakan pemerintah) semakin tidak jelas arah dan tujuannya. Padahal ketahanan pangan merupakan nawacita yang dijanjikan presiden Joko Widodo,” tambah Slamet.

Baca Juga :   Komisi V Setujui Pagu Anggaran Kementerian PUPR untuk Dibahas di Banggar

Untuk diketahui, BPS mencatat produksi beras nasional turun 440 ribu ton atau sekitar 1,36% dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 31,1 juta ton pada 2023. Dari hasil kerangka sampel area, potensi produksi beras nasional pada Januari-April 2024 sebanyak 10,71 juta ton atau turun 17,52% dari Januari-April 2023 yang mencapai 12,98 juta ton.

Dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Perum Bulog menyatakan sudah dan akan mendatangkan beras impor sebanyak 1,3 juta ton. Beras impor itu akan digunakan untuk menstabilkan harga beras dan bantuan beras bagi 22 juta keluarga berpenghasilan rendah.

Direktur Utama Bulog Bayu Krisnamurthi mengungkapkan, pada awal tahun ini, Bulog mendatangkan 500 ribu ton beras impor hasil sisa kuota impor tahun lalu. Hingga kini, Bulog juga telah merealisasikan kontrak impor beras dengan sejumlah negara sekitar 800 ribu ton.

”Sebanyak 300 ribu ton di antaranya merupakan kontrak baru impor beras dengan Thailand dan Pakistan,” tutur Bayu.

Bayu juga menyampaikan, stok beras Bulog per 13 Februari 2024 sebanyak 1,1 juta ton. Stok tersebut terdiri atas cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 1,09 juta ton dan beras komersial 11.356 ton. Stok tersebut belum termasuk pengadaan gabah dan beras dari dalam negeri yang sudah mulai dilakukan Bulog.

Baca Juga :   Jokowi: Ciptakan Hilirisasi Industri untuk Tingkatkan Nilai Tambah

Per 15 Maret 2024, harga rerata nasional beras medium di tingkat eceran berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas sebesar Rp 14.270 per kilogram (kg). Harga beras tersebut mulai turun tipis dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp 14.350 per kg.

Kendati begitu, harga beras itu masih di jauh di atas harga eceren tertinggi (HET) beras medium di tingkat eceran Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan zonasi. Adapun harga rerata nasional beras premium sebesar Rp 16.460 per kg. Harga tersebut meningkat dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp 16.410 per kg.

Bapanas juga telah merelaksasi HET beras premium di tingkat eceran berdasarkan wilayah tertentu menjadi Rp 14.900-Rp 15.800 per kg dari sebelumnya Rp 13.900-Rp 15.800 per kg. Kebijakan relaksasi itu berlaku sementara, yakni pada 10-23 Maret 2024.

Leave a reply

Iconomics