Resesi Argentina, Siapa yang Salah?

Apa yang dialami Argentina hanya sebuah kasus terburuk dari skenario umum yang muncul secara global. Volume perdagangan global runtuh dan resesi akan segera mengikuti. Dan resesi global itu hanya akan memperburuk resesi Argentina
0
104

Ilustrasi: Orang sedans mengamati pergerakan indeks

IconomicsWho Is to Blame for Argentina’s Economic Crisis? Demikian sebuah judul tulisan opini yang dimuat The New York Times daring pada 19 Agustus lalu. Judul yang boleh dibilang provokatif karena taicing tulisan tersebut mengingatkan peran Dana Moneter Internasional (IMF) ketika Argentina diterpa depresi tahun lalu.

Tulisan ini muncul karena pasar keuangan Argentina jatuh pada 12 Agustus lalu. Pasar saham berkontraksi 38% hanya dalam sehari. Kurs mata uang peso jatuh 30% dan pulih menjadi 20% setelah bank sentral Argentina menaikkan suku bunganya menjadi 75%. Analis dan pengamat tersentak dengan hasil pemilihan presiden Argentina pada 11 Agustus 2019.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dengan Argentina? Apa hubungan antara peristiwa politik dengan jatuhnya pasar keuangan di Argentina yang juga sedang terjadi secara global?

Sebuah tulisan di Global Research menyebutkan, penyebab jatuhnya pasar keuangan dan saham di Argentina karena hasil pemilihan pendahuluan presiden. Pemilihan pendahuluan ini adalah gambaran pemilihan umum yang akan digelar pada Oktober mendatang. Tanpa diduga Mauricio Macri, petahana yang didukung Amerika Serikat (AS) kalah dari penantangnya Alberto Fernandez.

Baca Juga :   Maskapai Arab Saudi Kembali Beroperasi di Indonesia

Fernandez disebut mendapat 48% suara dan Macri hanya mendapat 32% suara. Jarak suara sekitar 16% itu disebut tak akan bisa dikejar Macri. Dengan demikian, Macri dipastikan akan kalah pada Oktober mendatang. Gambaran ini membuat bankir dan investor global menjadi khawatir. Apalagi Fernandez, penantang Macri disebut punya keterkaitan dengan Nestor Kirchner dan Cristina Fernandez atau Cristina Kirchner yang memimpin Argentina dari 2003 hingga 2015. Tokoh yang dikenal sebagai oposan AS.

Sesungguhnya tak perlu bingung mengapa Macri bisa kalah dalam pemilihan pendahuluan presiden Argentina. Pasalnya, kita hanya perlu melihat fakta yang terjadi di sana. Inflasi di bawah kepemimpinan Macri mencapai 56% per tahun – salah satu yang tertinggi di dunia. Untuk menutupi keburukan Macri, para pakar menyebutnya telah bekerja dengan baik karena mampu menurunkan inflasi tersebut dari 70% pada 2018.

Akan tetapi, secara nyata inflasi baik 56% maupun 70% itu telah menghancurkan pendapatan riil pekerja dan usaha kecil. Kurs mata uang juga anjlok dalam 2 tahun terakhir. Penurunan nilai mata uang peso dipastikan akan terus berlanjut hingga beberapa waktu mendatang. Ekonomi riil Argentina juga telah masuk dalam resesi minus 5% dengan tingkat pengangguran mencapai dua digit. Produksi juga industri turun dua kali lipat selama 12 bulan terakhir.

Baca Juga :   Ketua Komisi VI: BUMN Kita Belum Mampu Jadi Pemain Global

Dari fakta ini, bisa dibilang standar kehidupan masyarakat Argentina menurun tajam akibat inflasi dan pengangguran. Tapi, tunggu dulu. Bukankah Argentina telah menerima utangan senilai US$ 56 dari IMF? Bukankah itu seharusnya meningkatkan ekonomi Argentina? Nyatanya itu digunakan untuk membayar utang kepada para bankir dan investor global.

Akan tetapi, sebelum pinjaman itu disetujui, IMF umumnya selalu memberikan syarat kepada negara yang akan menerima dana. Celakanya syarat itu selalu pula sama: mencabut subsidi, privatisasi dan pengetatan anggaran. Bahasa “ajimat” yang kerap dipakai IMF adalah program penyesuaian struktural (SAP).

Yang perlu diketahui publik, apa yang dilakukan pemerintah Argentina itu bukan sesuatu yang baru. Pasalnya, apa yang dilakukan Macri selama ini adalah skema kebijakan sesuai neoliberalisme. Dengan menyetujui pinjaman IMF, yang ditempuh Macri karena itu justru melipatgandakan skema neoliberalisme.

Itu sebabnya, dalam 2 tahun terakhir, terjadi peningkatan tarif listrik dan gas secara tajam; merevisi kebijakan pensiun; pemecatan pegawai negeri secara massal; mencabut subsidi pendidikan, kesehatan dan riset ilmu pengetahuan; serta menerapkan politik upah murah dan membatasi hak-hak kaum buruh. Dan itu semua tentu saja itu berdampak besar bagi masyarakat.

Baca Juga :   AS dan Tiongkok Sepakat soal Tarif, Perang Dagang Akan Berakhir?

Apa yang dialami Argentina hanya sebuah kasus terburuk dari skenario umum yang muncul secara global. Volume perdagangan global runtuh dan resesi akan segera mengikuti. Dan resesi global itu hanya akan memperburuk resesi Argentina. Lalu, seperti judul opini The New York Times itu, siapa yang patut disalahkan?

Untuk menjawab ini tentu saja kita tidak perlu ragu menjawabnya: yang patut dipersalahkan adalah Macri dan skema pinjaman dari IMF itu. Juga kebijakan Macri yang memotong lebih banyak anggaran sosial. [*]

Leave a reply