Perbanas: Terjadi Pelemahan Konsumsi Masyarakat Walau Pemerintah Klaim Ekonomi Tumbuh 5,12%

0
72
Reporter: Rommy Yudhistira

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menemukan adanya pelemahan konsumsi masyarakat di tengah munculnya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12% pada Kuartal II/2025. Apalagi, pertumbuhan ekonomi sejak Kuartal I/2024 secara umum menurun dari 5,11% menjadi 4,87% pada Kuartal I/2025.

Chief Economist Perbanas Dzulfian Syafrian mengatakan, pelemahan ekonomi terjadi lantaran menurunnya melemahnya konsumsi masyarakat yang berada di bawah level 5%. Sejatinya, konsumsi masyarakat merupakan penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan persentase sebesar 54%.

Sebab itu, kata Dzulfian, sedikit perubahan mampu berdampak signifikan bagi perekonomian nasional. Bila disandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional mulai dari Kuartal I/2024, tingkat konsumsi rumah tangga selalu berada di bawah 5%.

Untuk Kuartal I/2024, kata Dzulfian, sebesar 4,91%, lalu Kuartal II/2024 4,93%, kemudian Kuartal III/2024, 4,91%, Kuartal IV/2024, 4,98%, Kuartal I/2025, 4,95%, dan Kuartal II/2025, 4,97%. Pertumbuhan konsumsinya itu sudah di bawah 5%.

“Ini makanya kenapa pertumbuhan ekonomi kita makin lama di bawah 5%. Makanya kemarin, ketika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi di Kuartal II/2025 di atas 5%, itu membuat semuanya kaget. Karena ini agak anomali, banyak orang melihat seperti itu,” ujar Dzulfian dalam acara Kelas Jurnalis di Griya Perbanas, Jakarta, Rabu (20/8).

Baca Juga :   Pemerintah Diminta Selesaikan Adanya Vaksin Non-Halal untuk Covid-19

Apabila disusun berdasarkan kelompok, ujar Dzulfian, masyarakat dengan kategori kelas bawah sebanyak 87,0 juta orang. Kelas menengah 108,5 juta orang. dan kelas menengah atas sebanyak 83,8 juta orang.

Dari data itu, kata Dzulfian, konsumsi masyarakat kelas menengah atas mengalami penurunan sebesar -0,12% pada 2024. Sedangkan kelas bawah, dan menengah bawah justru tumbuh masing-masing 4,85%, dan 3,17%. Tumbuhnya konsumsi masyarakat menengah bawah, dan bawah ditopang dari berbagai bantuan pemerintah, khususnya di tahun politik.

Penurunan konsumsi kelas menengah atas, kata Dzulfian, tercermin dari penurunan kontribusi terhadap total pengeluaran nasional yang semula 53,60% pada 2023, menjadi 52,67% di 2024. Begitu pula pada sisi pendapatan, penurunan kelas menengah atas tercermin dari penurunan kontribusi terhadap total pendapatan nasional yang semula 62,63% pada 2023, menjadi 589,16% pada 2024.

Menurut Dzulfian, naik-turunnya konsumsi dan pendapatan kelas menengah atas menjadi penting untuk diperhatikan. Sebab, kelas menengah atas berperan dominan bagi perekonomian nasional. Dengan kata lain, penurunan ekonomi dan konsumsi yang terjadi, didorong dari pelemahan daya beli masyarakat kelas menengah ke atas yang sebesar 30% orang terkaya di Indonesia dengan jumlah sebanyak 83,8 juta orang.

Baca Juga :   Meski Tumbuh, Perbankan Syariah Indonesia Masih Kalah Jauh dari Skala Global

Untuk mengetahui secara pasti, kata Dzulfian, kecenderungan perilaku precautionary saving yang dilakukan kelas menengah atas, terutama pasca-Pemilu 2024. Dengan kontribusi sebesar 52,6% dari konsumsi nasional, turunnya konsumsi itu berdampak pada sektor barang/jasa premium.

Faktor kehati-hatian yang dilakukan kelas menengah ke atas, kata Dzulfian, pun terlihat dari meningkatnya jumlah tabungan kelas menengah atas. Apabila dilihat dari tahun 2024, jumlah tabungan dengan rata-rata Rp 3,13 triliun pada 2018, naik menjadi Rp 3,19 triliun pada Kuartal II/2025. Kemudian untuk yang di atas Rp 5 miliar, mengalami kenaikan dari rata-rata Rp 27,6 triliun pada 2018, menjadi Rp 34,2 triliun pada Kuartal II/2025.

“Jadi selama tahun 2024 mereka tahan dulu. Dan 2025 itu, biasanya setiap terjadi transisi pemerintahan, setahun pertama itu ketidakpastian terjadi. Makanya tahun 2024, sama 2025 itu yang menyebabkan kenapa si kaya-kaya ini mereka eman-eman,” ujar Dzulfian.

Sementara itu, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas Aviliani mengatakan, fenomena makan tabungan justru terjadi pada masyarakat kelas bawah. Menurut Aviliani, sebagian masyarakat harus menarik tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagai penanda tekanan pada kualitas keuangan rumah tangga sekaligus tantangan bagi likuiditas perbankan.

Baca Juga :   Ekspor Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Neraca Perdagangan Kembali Surplus

Berdasarkan data yang dianalisis Perbanas, jumlah rata-rata tabungan masyarakat bawah mengalami penurunan dari Rp 3,1 juta pada tahun 2018, kini menjadi Rp 1,7 juta pada Kuartal II/2025. Untuk mengatasinya, Aviliani mengusulkan pemerintah untuk mengarahkan kebijakan ekonomi ke sektor-sektor dengan daya dorong besar terhadap konsumsi. Adapun beberapa sektor yang dinilai menjadi kunci penggerak motor perekonomian yakni pariwisata, perdagangan dan jasa, serta konstruksi dan infrastruktur.

“Jadi saya rasa pemerintah harus banyak melihat sektor swasta, karena akhir-akhir ini kelihatannya sektor swasta belum banyak dimunculkan, tetapi lebih banyak pemerintah langsung kepada masyarakat. Itu tidak sustain,” ujar Aviliani.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics