Agar Bisa Berkontribusi pada Pertumbuhan 8%, Menkes Dorong Investasi Swasta pada Sektor Kesehatan
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam acara CNBC Indonesia Health Summit 2025 dengan “Transformasi Sektor Kesehatan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi 8%”, Rabu (13/8)/Foto: Dok.BPOM
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan sektor kesehatan di Indonesia dapat berkontribusi untuk mencapai target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 8%, sebagaimana ditargetkan oleh Presiden Prabowo.
Kuncinya, kata Budi, investasi di sektor ini terus ditingkatkan, terutama untuk produk-produk kesehatan, seperti farmasi dan alat kesehatan. Kedua subsektor kesehatan ini sebagian besar masih diimpor.
Berbicara dalam acara CNBC Indonesia Health Summit 2025 dengan tema “Transformasi Sektor Kesehatan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi 8%”, Budi menyampaikan berdasarkan data Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Bank Dunia, belanja sektor kesehatan di Indonesia sekitar Rp641 triliun (sekitar US$40 miliar) atau sebesar US$142 per kapita per tahun, dengan rata-rata usia harapan hidup penduduk Indonesia 72 tahun.
Data tersebut, kata Budi, menunjukkan potensi industri kesehatan Indonesia “besar sekali”. Bandingkan dengan Malaysia, dengan rata-rata usia harapan hidup di Malaysia 76 tahun, belanja kesehatan per kapita di negeri jiran itu sebesar US$432 per kapita.
Menurutnya, bila usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat menjadi 76 tahun seperti Malaysia, belanja sektor kesehatan juga tentu akan meningkat seperti di Malaysia. Dengan demikian, ada potensi peningkatan sekitar US$300 per kapita per tahun. Dengan jumlah populasi Indonesia sebanyak 280 juta orang, maka potensi belanja kesehatan Indonesia sebesar US$84 miliar.
Secara historis, kata Budi, sektor kesehatan di Indonesia selama ini tumbuh 9-11% per tahun. Namun, pertumbuhan tinggi ini, justru tidak masuk ke dalam sistem perekonomian Indonesia.
“Karena sebagian besar (produk kesehatan) masih impor. Kecuali (belanja subsektor) medical services, seperti Rumah Sakit, meski ada juga yang (berobat) ke Malaysia. Tetapi (belanja) medical services hampir semuanya mutarnya di ekonomi dalam negeri. Tetapi kalau kita beli vaksin Astrazeneca, vaksinya masih impor dari luar. Jadi, GDP growth enggak terjadi di Indonesia. Mungkin 80% dari belanjanya kita terjadinya di UK,” ujarnya.
“Our job is to make sure that this 9-11% expedicture growth itu 100% ter-translate menjadi 9-11% GDP growth. Dengan cara apa? Dengan cara move the industry as much as possible in the country. Jadi, all the economic activities yang translate itu GDP growth itu happens in this country and that will create jobs. Itu yang Pak Prabowo mau,” ujar Budi.
Budi mengatakan kontribusi sektor kesehatan pada PDB Indonesia memang terbilang kecil. Menurut data BPS, kata dia, kontribusi industri kesehatan hanya 2,17% terhadap PDB Indonesia, atau setara dengan Rp425 triliun.
Sementara menurut perhitungan Kemenkes, dibantu Bank Dunia, kontribusi industri kesehatan sebesar Rp641 triliun setara dengan 2,5% dari PDB.
“Jadi, sektor kesehatan ini sektor kecil. Kalau tambang mungkin 8% dari GDP, pertanian mungkin 10% dari GDP. Kita itu 2,1%-2,5% dari GDP. Jadi, kalau kita tumbuhnya 10%, kontribusi ke pertumbuhan GDP total hanya 10% kali 2,17%. Jadi hanya berkontribusi 0,2% dari target Bapak Presiden Prabowo yang 8%,” ujarnya.
Budi mengatakan, dirinya mesti bekerja keras meningkatkan kontribusi sektor kesehatan ini, setidaknya mencapai 1% dari PDB Indonesia atau sekitar US$15 miliar (dari total PDB Indonesia sekitar US$1,5 triliun).
Untuk mencapai 1% dari PBD ini, kata Budi, pemerintah harus menciptakan regulasi yang mendorong sektor swasta berinvestasi di Indonesia. Ia mengatakan, kemampuan finansial pemerintah terbatas untuk mendorong investasi. Dalam struktur ekonomi Indonesia, menurut Budi, kontribusi APBN hanya sebesar 16% dari PDB.
“Karena itu, tugas pemerintah adalah memastikan bahwa we create an environment sehingga swasta feel comfortable to invest sehingga dapat mencapai pertumbuhan itu (8%). Kita harus bikin regulasi supaya swasta mau invest dan cepat. Jadi, yang saya minta ke teman-teman Kemenkes, change our paradigm, our job is to support President untuk 8% GDP growth. Kita nggak punya apa-apa kecuali very powerful pen,” ujar Budi sambil menunjuk pena yang dipegangnya.
“Pen ini harus kita pakai untuk tanda tangan regulasi yang incentify sektor swasta untuk investasi supaya bisa sampai ke angka 8%,” ujarnya.