PLN Siap Revisi RUPTL untuk Penuhi Kebutuhan Listrik Proyek Inalum di Kalimantan Barat
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita (kiri) dan Direktur Ritel dan Niaga PLN, Adi Priyanto (kanan) saat sama-sama mengikuti Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis, 20 November 2025.
PT PLN (Persero) akan melakukan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 untuk mengakomodasi kebutuhan listrik jumbo bagi proyek pembangunan smelter aluminium PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) di Kalimantan Barat (Kalbar).
INALUM saat ini tengah merencanakan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) tahap II di Mempawah, Kalbar. Proyek tersebut, kata Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, membutuhkan pasokan listrik sebesar 932 MW. Namun, untuk menjamin ketersediaan dan kestabilan pasokan selama 360 hari dalam setahun, kapasitas terpasang yang dibutuhkan mencapai 1,2 GW untuk proyek yang direncanakan mulai beroperasi (commissioning) pada 2028 itu.
INALUM menegaskan bahwa pembangunan pembangkit listrik tidak masuk dalam perhitungan belanja modal (capex) proyek tersebut. Artinya, INALUM tidak bermaksud membangun pembangkit sendiri.
“Jadi, besar harapan kami, kami bisa membeli listrik. Membeli listrik dari PLN atau misalnya jika PLN tidak memiliki rencana untuk pemenuhan listrik di area Kalimantan Barat, maka kami minta diizinkan juga kami bisa mencari kapasitas listrik itu dari Independent Power Producer (IPP),” ujar Melati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI, Kamis (20/11).
Melati menambahkan, INALUM menginginkan agar pembangunan pembangkit yang memasok listrik bagi smelter dapat berfungsi sebagai captive source, yakni sumber listrik yang didedikasikan secara khusus untuk memastikan keandalan dan kontinuitas operasi smelter.
PLN, yang turut hadir dalam RDP tersebut, menyampaikan bahwa kebutuhan listrik untuk SGAR tahap II ini memang “sangat-sangat besar”.
Saat ini, total kapasitas sistem kelistrikan Kalimantan Barat baru sekitar 631 MW, jauh di bawah kebutuhan listrik smelter.
Karena itu, PLN menegaskan bahwa pembangunan pembangkit baru serta penguatan jaringan transmisi menjadi keharusan untuk memenuhi kebutuhan listrik smelter sekaligus menjaga stabilitas sistem kelistrikan Kalbar.
PLN juga menyampaikan bahwa kebutuhan listrik SGAR tahap II belum tercantum dalam RUPTL 2025–2034 yang diluncurkan pada Mei lalu.
“Tentunya dengan adanya pertemuan pagi hari ini, kami akan gercep (gerak cepat) akan melakukan rencana revisi RUPTL kami untuk bisa memasukkan demand ini agar kami nanti bisa membangun pembangkit, memperkuat transmisi ke depan untuk menunjang PT Inalum ini,” kata Direktur Ritel dan Niaga PLN, Adi Priyanto.
PLN menyebutkan bahwa seluruh rencana INALUM masih dalam tahap kajian internal dan studi kelayakan yang ditargetkan selesai pada awal 2026. PLN akan mengikuti perkembangan kajian tersebut dan memastikan bahwa rencana pengembangan PLN diselaraskan dengan hasil studi kelayakan INALUM, agar tidak terjadi keterlambatan pemenuhan kebutuhan listrik proyek tersebut.
Ekspansi Smelter Kuala Tanjung di Sumatera Utara
Selain proyek alumina di Mempawah, INALUM juga tengah menyusun rencana penguatan kapasitas produksi aluminium di smelter Kuala Tanjung, Sumatera Utara, melalui pembangunan potline keempat (PL-4). Ekspansi ini sangat bergantung pada ketersediaan listrik di wilayah Sumatera Utara.
“Kami memiliki inisiatif untuk penambahan potline kita yang keempat. Ini tergantung dari besaran listrik yang tersedia di kawasan Sumatera Utara,” kata Melati.
Potline baru diproyeksikan beroperasi pada 2029, dengan perkiraan tambahan kebutuhan listrik 209 MW pada tahun tersebut. Pada 2030 kebutuhan meningkat menjadi 232 MW, seiring peningkatan kapasitas melalui upgrade potline ketiga (PL-3). Pada tahap akhir, ketika kapasitas produksi naik dari 275 KTPA menjadi 520 KTPA, total kebutuhan listrik diproyeksikan mencapai 406 MW.
Hingga kini, sistem kelistrikan Sumatera bagian bawah dan bagian atas belum terkoneksi, sehingga suplai listrik yang dapat diandalkan masih bergantung pada wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi ini menjadi dasar kehati-hatian INALUM dalam menyusun konfigurasi jangka panjang kebutuhan energi untuk menopang ekspansi smelter.
Terkait kebutuhan listrik untuk peningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Adi Priyanto menyampaikan bahwa saat ini PLTA Inalum menghasilkan 520 MW. Namun, kebutuhan listrik smelter akan meningkat menjadi 915 MW, atau membutuhkan tambahan 406 MW.
PLN menegaskan siap memenuhi permintaan tambahan listrik tersebut. Namun, Adi mengakui adanya tantangan. Kendati sistem Sumatera Utara memiliki reserve margin yang cukup, lonjakan kebutuhan pada 2029 (sekitar 200 MW) dan pada 2031 (406 MW) memerlukan penguatan sistem transmisi.
“Perlu diketahui bahwa sistem Sumatera saat ini itu sudah ada rencana backbone 500 KV yang menghubungkan antara Sumatera Selatan sampai dengan Sumatera Utara. Saat ini memang belum nyambung sampai ke ujungnya di Sumatera Utara tetapi dengan adanya rencana dari Inalum tentunya kami berusaha sekuat tenaga bagaimana nanti pada saat kebutuhan Inalum terjadi di tahun 2031 itu kita sudah mempunyai sistem yang kuat, sistem 500 KV kami,” kata Adi.
Adi menegaskan bahwa PLN “sangat bisa” memenuhi kebutuhan listrik smelter INALUM. “Kami akan suplai sesuai dengan yang diminta Inalum, kami akan mensuplai dengan energi baru dan terbarukan yang ada di sana,” ujarnya.