Semester I-2023: Pendapatan Negara Mencapai 57,2% dari Target

0
252

Selama semester pertama tahun 2023 ini, realisasi pendapatan negara sudah mencapai lebih dari separuh. Hingga akhir tahun, pendapatan negara diprakirakan melebihi target dalam APBN 2023.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Senin (3/7).

Sri Mulyani menyampaikan selama paruh pertama tahun ini, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.407,9 triliun atau sudah mencapai 57,2% dari target. Pendapatan negara tersebut tumbuh 5,4% yoy.

Penerimaan Pajak mencapai Rp970,2 triliun atau 56,5% dari target dan tumbuh 9,9% yoy, terutama ditopang PPh Badan yang tumbuh 26,2% yoy dan PPN Dalam Negeri yang tumbuh 19,5% yoy. Pertumbuhan PPh Badan dan PPN dalam Negeri ini, kata Sri Mulyani “menunjukkan ekonomi kita masih tumbuh cukup baik.”

Selanjutnya, penerimaan Bea Cukai sepanjang semester pertama tahun ini mencapai Rp135,4 triliun tumbuh negatif 18,8% yoy. Kemudian, PNBP mencapai Rp302,1 triliun atau 68,5% dan tumbuh 5,5% yoy terutama berasal dari komoditas non migas yang tumbuh 94,7% yoy dan dividen BUMN yang tumbuh 19,4% yoy.

Baca Juga :   Ketua MPR Sentil Soal Utang Luar Negeri, Sri Mulyani: Sudah Menurun Sangat Tajam

“Perlemahan harga komoditas diwaspadai,” ujar Sri Mulyani mengutip akun Facebook-nya.

Di sisi belanja, hingga Juni 2023 Belanja Negara mencapai Rp1.254,7 triliun atau 41,0% dari target dalam APBN 2023. Belanja Negara ini hanya tumbuh 0,9% yoy.

“Belanja Pemerintah Pusat (BPP) mencapai Rp 891,6 triliun tumbuh 1,6% dimana Rp492 triliun (55,2%) dinikmati langsung masyarakat dalam bentuk Bansos-Subsidi listrik, BBM, LPG 3 kg dan pupuk, beasiswa anak-anak tak mampu, premi BPJS kesehatan bagi masyarakat miskin. Selain itu belanja prioritas nasional termasuk persiapan Pemilu, belanja alutsista, pembangunan infrastruktur dan IKN,” jelas Sri Mulyani.

Tanpa menyebut nilai realisasinya, Sri Mulyani mengatakan belanja Transfer Ke Daerah dilakukan untuk mendukung Pemerintah Daerah dalam pelayanan masyarakat baik di bidang pendidikan maupun kesehatan, serta mendukung pembangunan empat Daerah Otonom Baru (DOB) Papua.

“APBN juga memberikan Insentif Fiskal untuk 62 Daerah Tertinggal dan penurunan inflasi daerah. Juga upaya memberantas kemiskinan ekstrim dengan Dana Desa difokuskan untuk mengurangi kemiskinan ekstrem dan perbaikan tata kelola di desa,”jelasnya.

Baca Juga :   Presiden Jokowi: 6 Kebijakan Utama 2022

Dengan postur pendapatan dan belanja tersebut, APBN 2023 semester I surplus Rp152,3 triliun, Keseimbangan Primer surplus Rp368,2 triliun.

“Ini hasil positif yang sangat baik,” ujarnya.

Pemerintah optimistis pendapatan negara hingga akhir tahun akan melampaui target dalam APBN. Sri Mulyani menyampaikan proyeksi akhir APBN 2023 diprakirakan Penerimaan negara mencapai Rp2.637,2 triliun atau 107,1% target (7,1% diatas target). Belanja total diprakirakan mencapai Rp3.123,7 triliun. Defisit dapat ditekan menjadi Rp486,4 triliun (2,28% PDB). Pembiayaan utang menurun 41,6% atau berkurang Rp289,9 triliun dari target.

“APBN 2023 terus bekerja keras melindungi rakyat dan ekonomi. APBN juga makin sehat dan sustainable. Itu prestasi yang tidak mudah pada saat banyak negara mengalami krisis ekonomi dan kesulitan Keuangan Negara/utang,” tutupnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics