KAI Cetak Pendapatan Rp 16,8 T di Semester I/2025, Utang Juga Ikut Naik
Dirut KAI,
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan total pendapatan mencapai Rp 16,8 triliun pada Semester I/2025. Angka itu naik 2% dari pendapatan Semester I/2024 yang mencapai Rp 16,5 triliun.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pihaknya pun mencetak laba senilai Rp 1,1 triliun, atau naik 8% dari laba bersih pada Semester I/2024 senilai Rp 1,1 triliun.
“Kalau kita gambarkan dalam bentuk aset dan liabilitas maka kita bisa lihat di 2025, secara aset itu naik menjadi Rp 102,3 triliun, dan secara liability juga naik menjadi Rp 65,7 triliun,” kata Bobby di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/8).
Sedangkan dari sisi rasio keuangan, kata Bobby, jumlah utang dengan ekuitas (DER) dari 120% pada Semester I/2024, dengan rincian utang Rp 43,2 triliun, ekuitas Rp 32 triliun. Sedangkan pada Semester I/2025, menjadi 130%, dengan jumlah utang Rp 46,5 triliun, dan ekuitas Rp 36,6 triliun.
“Kalau kita lihat utang (debt) penugasan dan non-penugasan itu Semester I/2025 Rp 46,5 triliun. Naik dibandingkan Semester I/2024 Rp 43,2 triliun,” kata Bobby.
Sedangkan untuk utang non-penugasan pemerintah, KAI mencatat adanya kenaikan dari Rp 11,1 triliun Semester I/2024, menjadi Rp 13 triliun Semester I/2025. Kemudian, untuk penyerapan kerugian proyek penugasan, KAI mencatat penurunan dari Rp 2,3 triliun pada Semester I/2024, menjadi Rp 1,4 triliun pada Semester I/2025.
Adapun porsi proyek yang berkontribusi terhadap kerugian KAI yakni Rp 1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), Rp 305 miliar dari proyek LRT Jabodebek, dan Rp 262 miliar dari proyek Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta) untuk Semester I/2024. Sedangkan untuk Semester I/2025, sebesar Rp 1,2 triliun dari proyek KCJB, dan Rp 178 miliar dari proyek Basoetta.
Kemudian, realisasi dana pinjaman bantuan operasional (CDS) porsi KAI dalam hal penugasan, kata Bobby, mencapai Rp 719 miliar dari Rp 721 miliar untuk tahun 2024. Sementara itu, rencana CDS tahun 2025 senilai Rp 729 miliar.
“Semester I ini (2025), itu kontribusi (penerimaan negara) non-pajak sekitar Rp 900 miliar, kalau kita bandingkan dengan 2024 (Rp 1,3 triliun) masih lebih rendah. Tapi kita masih punya 4,5 bulan untuk melampaui itu. Kemudian untuk kontribusi pajak itu sekitar Rp 3,5 triliun dibanding dengan Rp 4,3 triliun pada 2024,” ujar Bobby.