Pernyataannya Jadi Kontroversi, Purbaya Kapok Tampil ala “Koboi” Lagi

0
120

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku akan lebih berhati-hati dalam berbicara di hadapan publik, menyusul kontroversi pernyataannya terkait demo 17+8, sesaat setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia menggantikan Sri Mulyani Indrawati.

Berbicara di hadapan anggota Komisi XI DPR RI dalam rapat Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Keuangan Pagu Tahun Anggaran 2026, Rabu (10/9), Purbaya mengatakan bahwa selama menjadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), ia memang kerap tampil ala “koboi”.

“Ini pengalaman pertama saya sebagai Menteri Keuangan. Biasanya sebagai LPS. Kalau waktu LPS, saya katanya ngomongnya agak koboi, sekarang nggak boleh,” ujarnya disambut tawa anggota dewan.

“Saya baru merasakan dampaknya. Rupanya beda. Sekarang saya akan strict pada pidato yang sudah disiapkan staf saya. Jadi, nggak ada sesi bebas lagi,” tambahnya.

Seorang anggota Komisi XI menimpali, “Pak Menteri, boleh koboi, tetapi ada isinya.”

Sebelumnya, setelah dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan pada 8 September, menjawab pertanyaan wartawan mengenai demo 17+8 dengan, Purbaya mengatakan aksi protes tersebut hanya dilakukan sebagian kecil masyarakat Indonesia.

“Saya belum mempelajari tuntutan 17+8 secara detail, tapi basically begini: itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Mungkin sebagian merasa terganggu karena hidupnya masih kurang. Begitu saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6–7 persen, masalah itu akan hilang secara otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan ikut demo,” ujarnya.

Baca Juga :   Profil Singkat Purbaya Yudhi Sadewa, Menkeu Pengganti Sri Mulyani

Purbaya telah menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya itu pada Rabu (9/10).

Dalam catatan Theiconomics.com, Purbaya kerap ceplas-ceplos dalam menyampaikan komentar. Purbaya yang juga sempat mengikuti seleksi Anggota Dewan Komisioner LPS periode 2025-2030, dalam sebuah acara yang digelar LPS di Surabaya baru-baru mengatakan ditegur oleh Panitia Seleksi (Pansel) karena kerap berbeda pandangan soal perekonomian Indonesia.

“Kemarin saya di Pansel ditegur. ‘Kamu’, katanya, ‘kalau ngomong sembarangan. Gayanya koboi, ke sana ke sini kalau ngomong ekonomi, beda sama yang lain’” cerita Purbaya saat menjadi pembicara kunci pada hari kedua acara “LPS Financial Festival 2025” di Surabaya, Kamis, 7 Agustus.

Dalam acara itu, hadir sejumlah tokoh, seperti pemilik CT Corp, Chairul Tanjung; Walikota Surabaya, Ery Cahyadi; Direktur Operasional PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Timothy Utama; Presiden Direktur HM Sampoerna, Ivan Cahyadi; dan Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional pada 2009-2014.

Merespons teguran Pansel itu, Purbaya mengatakan akan menyesuaikan pandangannya.

“Saya bilang, ‘ya udah, kalau begitu pak, ibu, nanti saya adjust supaya sama,’” ujarnya.

“Tetapi, namanya ekonomi, ya suka-suka. Ekonom suka-suka,” tambahnya lagi.

Purbaya mengakui pandangannya soal ekonomi Indonesia memang “agak beda” dengan pandangan sebagian ekonom global.

Baca Juga :   Menteri Purbaya Klarifikasi Penempatan Dana Rp200 Triliun di Bank Himbara, Bukan Berjangka 6 Bulan

“Termasuk ekonom-ekonom domestik yang nggak ngerti. Mungkin bacanya terjemahan, terus menterjemahkan ekonomi global seperti apa, kita seperti apa, akibatnya semuanya takut ekonomi kita akan runtuh,” ujar Purbaya.

Dalam paparannya, Purbaya menyampaikan optimismenya akan pertumbuhan ekonomi domestik.

Ia mengatakan, ekonomi Amerika Serikat yang selama ini diproyeksikan kontraksi, nyatanya pada triwulan II 2025 tumbuh 3%. Pertumbuhan tersebut, kata dia, sudah optimal.

“Jadi, beda yang digambarkan orang. Ternyata negara yang dianggap sumber ketidakpastian dunia tumbuhnya masih oke, walaupun Presidennya agak aneh, tetapi masih oke pertumbuhannya. Harusnya itu akan berdampak positif juga ke kita (ekonomi Indonesia),” ujarnya.

Purbaya mengatakan, sebelumnya, ia juga pernah mengkritik International Monetary Fund (IMF) saat menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 4,7%.

“Di acara CNBC (CNCB Indonesia), saya bilang, ‘jangan percaya begitu saja ke IMF. Saya nggak boleh bilang bodoh rupanya. Dia nggak pintar-pintar amat. Dia nggak lebih pintar dari saya juga,” ujarnya.

Akibat pernyataan itu, Purbaya mengaku ditegur. Namun ia tak menyampaikan pihak yang menegurnya itu.

“Saya ditegur, ‘kenapa Anda bilang begitu’,” ujarnya.

Menurut Purbaya, kritiknya ke IMF belakangan terbukti benar, karena pada Juli lalu, IMF merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% dari 2,8% pada April.

“(Ekonomi) Indonesia tadinya diprediksi tumbuh 4,7%, sekarang 4,8%. Saya yakin bulan depan naik lagi, mungkin ke 5% lagi,” ujar Purbaya.

Baca Juga :   BI dan Kemenkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2025 di Atas 5 Persen

Poinnya, kata Purbaya, proyeksi pertumbuhan dari ahli-ahli ekonomi dunia memang tetap diperhatikan. 

“Tetapi jangan takut-takut amat. Selama kita tahu, apa yang kita kerjakan. Kalau saya lihat sih, ekonomi kita, walaupun ekonomi global gonjang-ganjing, ketidakpastian dunia selalu ada, tetapi kita enggak usah terlalu khawatir,” ujarnya.

Purbaya yang pernah menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) pada 2010-2014 bersama Chairul Tanjung mengungkapkan, saat itu setiap tahun KEN dalam laporannya selalu mengungkapkan ketidakpastian global. 

Judul laporan ekonomi Indonesia yang dibuat KEN saat itu, kata dia, selalu menyematkan kata ketidakpastian seperti  “tumbuh di tengah ketidakpastian dunia”, “bertahan di tengah ketidakpastian dunia” dan “tetap tumbuh walaupun  dunianya jatuh”.

“Lama-lama saya pikir, 25 tahun terakhir membahas ekonomi itu, setiap tahun pasti ada ketidakpastian. Jadi, Anda nggak usah takut tentang ketidakpastian global, itu selalu ada. Tetapi tergantung pintar-pintarnya kita menentukan arah ekonomi kita sendiri,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics