Kinerja APBN Tetap Positif di Tengah Tantangan Global yang Masih Berat

1
112

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan pelaksanaan APBN tahun 2023 hingga Mei masih positif meskipun lingkungan global masih sangat berat, bahkan masih berisiko. Beberapa tantangan global saat ini adalah volatilitas pasar keuangan masih tinggi, geopolitik masih bergejolak, harga komoditas mengalami koreksi. Inflasi global, meskipun sudah mengalami penurunan tetapi levelnya masih tinggi.

“Ini adalah lingkungan global yang sangat rumit tidak tidak mudah dan merupakan tantangan. Namun, di lihat dari APBN kita, kinerjanya baik untuk juga mendukung kinerja ekonomi domesitk yang juga terus mengalami pemulihan,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juni 2023, Senin (26/6).

Kinerja positif APBN ini, jelas Sri Mulyani, terlihat dari sisi belanja, penerimaan dan pembiayaan yang semuanya menggambarkan konsolidasi APBN yang sangat kuat, kredibel dan solid.

Hingga Mei 2023, pendapatan negara mencapai Rp1.209,3 trilun atau sudah mencapai 49,1% dari total target APBN tahun ini dan ini menunjukkan pertumbuhan 13% dibandingkan penerimaan bulan Mei tahun 2022 yang lalu.

Baca Juga :   Hingga September, Pendapatan Negara Tumbuh Kencang, Belanja Negara Loyo

Penerimaan perpajakan mencapai Rp948,7 triliun atau tumbuh 12,2% YoY yang ditopang oleh penerimaan pajak sebesar Rp830,3 triliun (+17,7% YoY). Sementara, penerimaan kepabeanan dan cukai mengalami kontraksi sebesar 15,6% menjadi Rp118,4 triliun.

Dari sisi belanja negara, hingga Mei mencapai Rp1.005,0 triliun atau 32,8% dari total target belanja negara tahun ini dan naik 7,1% dibandingkan Mei 2022 (YoY).

“Kondisi APBN hingga akhir Mei masih mencatatatkan surplus, untuk total APBN sebesar Rp204,3 triliun. Ini artinya 0,97% dari total Produk Domestik Bruto yang diprakirakan tahun ini. Sedangkan dari sisi keseimbangan primer, juga mencatatkan surplus Rp390,5 triliun,” ujar Sri Mulyani.

Kinerja positif APBN hingga Mei 2023 ini terjadi di tengah ekonomi global yang masih menantang. Sri Mulyani menyampaikan kondisi perekonomian global masih menunjukkan ketidakpastian yang tinggi.

“Saya baru saja kembali dari Paris dan memang menggambarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global masih tidak pasti sesuai dengan prediksi yang dikeluarkan oleh lembaga-lemabaga dunia seperti IMF, World Bank, dan OECD, semuanya menggambarkan tahun 2023 ini adalah tahun yang cukup lemah dibandingkan tahun lalu bahkan tahun 2021,” ujar Sri Mulyani.

Baca Juga :   Penyaluran Kredit Lesu, Kepemilikan Bank di SBN Meningkat Menjadi 25,28%

Bank Dunia memproyeksikan tahun ini ekonomi global tumbuh 2,1%, IMF memprakirakan 2,8% dan OECD sebesar 2,7%. “Tahun depan mungkin diprakirakan lebih sedikit membaik, namun masih banyak ketidakpastian,” ujar Sri Mulyani.

Proyeksi pertumbuhan perdagangan internasioal juga menunjukkan pelemahan yang paling signifikan. Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan global trade diprakirakan hanya 2,4% jauh melemah dibandingkan tahun lalu yang 5,1% atau tahun 2021 yang tumbuh 10,6%.

Aktivitas manufaktur global juga masih lesu. Hal ini terlihat dari Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) di banyak negara yang masih berada di bawah level ekspansif 50%. Sri Mulyani menyampaikan hanya 24% negara di dunia ini yang PMI ekspansi dan meningkat, diantaranya India, Filipina, Rusia, Jepang dan Tiongkok. Sedangkan negara yang dalam zona ekspansi di atas 50% hanya 14%, ini termasuk Indonesia, Thailand, dan Meksiko.

“Mayoritas negara PMI Manufakturnya dalam kondisi kontraktif. Aktivitas dari PMI ini menggambarkan kondisi ekonomi keseluruhan dan tadi pertumbuhan ekonomi global termasuk perdagangan global yang mengalami pelemahan,” ujanrya.

Baca Juga :   Sri Mulyani Bicara Pandemi, Endemi, Vaksinasi dan Dampak Sosial-Ekonomi

Harga komoditas pada tahun ini juga menunjukkan tren pelemahan seiring dengan permintaan yang tidak pasti dan melemah secara global. Gas alam sudah menurun 38% year to date/ytd (Janauri-Juni), batubara turun 63,8% ytd, minyak mentah turun 14,3% ytd, dan CPO turun 15,1% ytd.

1 comment

Leave a reply

Iconomics